Asap Karhutla Tebal di Pagi Hari, DLHP Sumsel: Dipengaruhi Kelembapan dan Arah Angin

  • 19 Sep 2026 10:50 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Kualitas udara Kota Palembang pada pagi hari mencapai kategori sangat tidak sehat dengan kondisi berkabut asap.
  • Arah angin, temperatur, dan kelembapan udara yang tinggi menjadi faktor utama penyebab kondisi udara tercemar di Palembang.
  • Aktivitas pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang minimal pada malam hari menyebabkan akumulasi partikel polutan di udara.

RRI.CO.ID, Palembang Beberapa hari ini kondisi udara di Kota Palembang pada pagi hari terpantau berkabut asap dengan tingkat kualitas udara yang masuk kategori sangat tidak sehat. Kondisi tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, di antaranya arah angin, temperatur, serta tingginya kelembapan udara.

Kepala Bidang Pengendalian Kerusakan dan Pemeliharaan Lingkungan Hidup DLHP Sumatera Selatan, Benni Yusnandarsyah, mengatakan kondisi asap pada pagi hari cenderung terlihat lebih tebal karena angin bergerak ke arah Palembang. Menurut Benni, aktivitas pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tidak banyak dilakukan pada malam hari turut menyebabkan adanya akumulasi partikel di udara.

Kondisi tersebut diperkuat dengan tingkat kelembapan yang cukup tinggi.“Karena memang anginnya ke arah Palembang, sedangkan kegiatan pemadaman di malam hari kebanyakan tidak dilaksanakan dan ada kelembapan. Jadi kelembapan kita cukup tinggi sehingga partikel-partikel PM2,5 turun, sehingga kelihatan agak tebal asapnya,” ujar Benni saat berbincang dalam dialog Palembang Menyapa RRI, Rabu, 16 Setember 2026.

Ia menjelaskan, berdasarkan pemantauan alat AQMS milik DLHP, kualitas udara Palembang pada pagi hari berada dalam kategori sangat tidak sehat. Namun, kondisi tersebut dapat berubah seiring perubahan arah angin dan temperatur.

“Ini memang berfluktuasi. Kadang-kadang siang nanti dari sangat tidak sehat menjadi tidak sehat. Karena asap itu tergantung arah angin dan temperatur,” katanya.

Benni menerangkan, fenomena asap yang terlihat tebal pada pagi atau subuh hari bukan semata-mata disebabkan oleh gas. Partikel hasil pembakaran, khususnya PM2,5, dapat turun dan berkumpul di dekat permukaan ketika temperatur rendah dan kelembapan tinggi.

“Asap itu bukan gas. Yang turun itu bukan gas, tapi partikel. Jadi yang kita lihat pagi-pagi seperti ini, subuh, itu partikel, bukan gas,” jelasnya.

Menurut dia, ketika temperatur meningkat, kondisi partikel di udara juga dapat berubah karena pengaruh pergerakan udara dan uap air. Karena itu, kualitas udara pada pagi dan siang hari dapat menunjukkan kondisi yang berbeda.

Terkait peringatan Hari Ozon Seduni, Benni mengatakan kebakaran hutan dan lahan perlu dibedakan dengan penyebab utama kerusakan lapisan ozon. Ia menjelaskan, kerusakan lapisan ozon secara historis banyak dikaitkan dengan emisi zat perusak ozon seperti chlorofluorocarbon (CFC) yang sebelumnya banyak digunakan dalam sistem pendingin, serta sejumlah bahan kimia lainnya, seperti metil bromida dan karbon tetraklorida.

“Kalau dikaitkan dengan lapisan ozon, sebenarnya kebakaran hutan dan lahan itu tidak menjadi penyebab utama. Lapisan ozon itu rusak karena gas klorofluorokarbon yang terbesar,” ungkapnya.

Meski demikian, pembakaran hutan dan lahan tetap menghasilkan emisi yang berdampak terhadap lingkungan dan perubahan iklim. Menurut Benni, emisi utama dari karhutla antara lain berupa karbon dioksida (CO2) dan metana.

“Dari hasil pembakaran itu sedikit sebenarnya gas yang dapat merusak ozon. Yang terbesar hasil dari pembakaran hutan dan lahan ini adalah timbulnya emisi gas rumah kaca seperti CO2 dan gas metan,” ujarnya.

Ia menambahkan, peningkatan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer berkontribusi terhadap pemanasan global dan perubahan iklim. Dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan penurunan kualitas udara akibat partikulat seperti PM2,5, tetapi juga dengan peningkatan emisi gas rumah kaca yang berpengaruh terhadap sistem iklim.

Kondisi kualitas udara Palembang dapat berubah sepanjang hari. Perubahan tersebut dipengaruhi dinamika cuaca, terutama arah angin, temperatur, dan kelembapan udara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....