Solidaritas Jurnalis Sumsel Doakan Delapan Korban Hilang di Krakatau

  • 15 Sep 2026 20:44 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Insan pers Sumsel menggelar doa bersama untuk lima wartawan dan tiga ABK yang masih dalam pencarian di Selat Sunda.
  • Organisasi jurnalis mengingatkan pentingnya keselamatan dan komunikasi saat melakukan peliputan di wilayah berisiko.
  • Delapan korban hilang terdiri dari awak kapal, pemandu, serta wartawan dari sejumlah media nasional.

RRI.CO.ID, Palembang - Harapan agar lima jurnalis dan tiga anak buah kapal (ABK) yang hilang saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau segera ditemukan terus menguat. Memasuki hari kedelapan pencarian pada Selasa, 15 September 2026, delapan orang tersebut masih belum kembali kepada keluarga.

Solidaritas terhadap para korban datang dari insan pers Sumatera Selatan. Forum Jurnalis Sumatera Selatan bersama sejumlah organisasi jurnalis menggelar doa bersama di Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera) Palembang.

Kegiatan tersebut diikuti perwakilan PWI, AJI, PFI, AMSI, SMSI, JMSI, JO Sriwijaya, PRSNI, dan AMKI. Doa dipanjatkan agar proses pencarian berjalan lancar dan seluruh korban dapat ditemukan dalam keadaan selamat.

Ketua AMSI Sumsel sekaligus inisiator kegiatan, Ardhy Fitriansyah, mengatakan peristiwa tersebut menjadi duka mendalam bagi seluruh insan pers. Menurutnya, kejadian itu juga menjadi momentum untuk mengevaluasi standar keselamatan jurnalis saat menjalankan tugas.

"Kami sangat berduka. Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa kecepatan dan eksklusivitas berita tidak boleh melampaui keselamatan jiwa. Berita terbaik tetap harus mengutamakan jurnalisnya pulang dengan selamat," tegas Ardhy.

Ardhy menjelaskan perusahaan media memiliki tanggung jawab dalam memastikan kesiapan jurnalis sebelum diterjunkan ke lokasi berisiko. Menurutnya, perlindungan tersebut mencakup perlengkapan keselamatan, alat komunikasi darurat, asuransi, hingga pendampingan dari pemandu lokal yang memahami kondisi wilayah.

Ia meminta perusahaan media tidak menugaskan jurnalis secara mandiri ke wilayah dengan tingkat bahaya tinggi. Keselamatan wartawan harus menjadi pertimbangan utama sebelum mengejar informasi dari lokasi bencana.

"Jangan pernah kirim jurnalis sendirian ke zona merah erupsi. Perusahaan media wajib hadir melindungi. Kami juga membuka posko pendampingan untuk keluarga para jurnalis yang hilang," katanya.

Ketua AJI Palembang R.M. Resha A. Usman menyampaikan doa bersama tersebut menjadi bentuk kepedulian seluruh jurnalis di Sumatera Selatan. Ia berharap rekan-rekan yang hilang dapat segera ditemukan dan kembali dengan selamat.

"Ini kesedihan kita semua. Mereka hilang saat menjalankan tugas jurnalistik, tugas mulia untuk publik. Kami di sini mendoakan agar mereka bisa kembali dengan selamat," kata Resha.

Resha juga mengingatkan pentingnya membangun budaya saling menjaga antarjurnalis ketika bertugas di lokasi rawan. Menurutnya, kebiasaan sederhana seperti memberi informasi lokasi dan rute perjalanan dapat membantu saat terjadi kondisi darurat.

"Saling jaga. Kalau mau berangkat ke lokasi bencana atau tempat yang berpotensi bahaya, wajib lapor ke rekan-rekan. Supaya kalau terjadi apa-apa, kita bisa cepat minta pertolongan," ujarnya.

Jurnalis senior Sumsel Oktaf Riyadi menilai keselamatan merupakan tanggung jawab bersama antara jurnalis lapangan dan perusahaan media. Ia meminta setiap penugasan mempertimbangkan tingkat risiko sebelum dilakukan.

"Pimpinan juga harus melihat, ini bahaya tidak kalau kita kirim wartawan kita. Itu harus dipertimbangkan. Walaupun kita ingin berita yang terbaik, keselamatan tetap nomor satu," pungkasnya.

Menurut Oktaf, tuntutan menghasilkan berita berkualitas tidak boleh membuat aspek keselamatan terabaikan. Prinsip tersebut berlaku bagi seluruh jurnalis, baik wartawan tulis, foto, maupun mereka yang melakukan peliputan mendalam.

Hingga hari kedelapan pencarian, delapan orang masih dalam pencarian Tim SAR gabungan. Mereka terdiri dari kapten kapal Warta (55), ABK Surakman (60), pemandu Heriyanto (49), serta lima jurnalis yakni M. Bagus Khoirunnas (28) dari Antara, Ari Basuki (52) dari Merdeka.com, Yudhis (43) dari iNews, Daus (42) dari Anadolu, dan Donal (51) jurnalis freelance.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....