Bank Sampah Melati, Sulap Minyak Jelantah Jadi Sabun Ramah Lingkungan
- 07 Sep 2026 09:01 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Minyak jelantah difermentasi dan diproses menjadi sabun serbaguna tanpa bau minyak.
- Program ini mendorong warga mendaur ulang limbah sekaligus memperoleh penghasilan tambahan.
- Bank Sampah Melati mengolah minyak jelantah menjadi sabun ramah lingkungan bernilai ekonomi.
RRI.CO.ID, Palembang - Minyak jelantah bekas menggoreng ternyata dapat diolah menjadi sabun ramah lingkungan bernilai ekonomi. Ketua Bank Sampah Melati Kelurahan 23 Ilir, Dyah Eka Sari Izuddin, menyebut produk tersebut kini menjadi salah satu andalan komunitasnya.
Hal ini disampaikan Dyah dalam siaran Obrolan Komunitas Pro 4 RRI Palembang, Kamis, 3 September 2026. Dyah mengaku warga dapat menyalurkan minyak jelantah yang tidak terpakai langsung ke Bank Sampah Melati.
"Kalau ada di antara warga yang punya minyak jelantah enggak dipakai, boleh distribusikan ke tempat kami," ujar Dyah. Ia menyebut minyak jelantah tersebut dihargai Rp2.500 per liter bagi warga yang menyetorkannya.
Dyah menjelaskan minyak jelantah terlebih dahulu difermentasi menggunakan arang aktif selama minimal 24 jam sebelum diolah menjadi sabun. Proses tersebut bertujuan menghilangkan bau minyak yang menempel pada bahan baku.
"Sabun minyak jelantah ini tidak berbau minyak lagi karena sudah kami fermentasi," katanya. Dyah menyebut proses bleaching turut dilakukan agar hasil sabun tampak lebih jernih sebelum dipasarkan.
Dyah menegaskan sabun berbahan dasar minyak jelantah tersebut dapat digunakan untuk mencuci pakaian maupun perabotan rumah tangga. Produk ini menjadi alternatif pengganti deterjen kimia yang selama ini dijual di pasaran.
"Ini bisa jadi sabun serba guna untuk mencuci baju dan perabotan rumah tangga, cuci motor pun bisa," ungkap Dyah. Ia menyebut produk tersebut dijual dengan harga terjangkau, yakni Rp10.000 per kemasan isi 3 batang sabun kepada masyarakat umum.
Dyah menyebut inovasi ini menjadi salah satu cara Bank Sampah Melati mengubah limbah rumah tangga menjadi produk yang memiliki nilai jual. Selain minyak jelantah, komunitas ini turut mengolah limbah dapur lain menjadi produk Eco-Enzyme dan turunannya.
Dyah berharap semakin banyak warga tergerak menyetorkan minyak jelantah demi mendukung program daur ulang berkelanjutan. Ia menegaskan limbah rumah tangga yang selama ini dianggap tidak berguna sebenarnya dapat menjadi sumber penghasilan tambahan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....