Pemerintah Perkuat Kolaborasi Cegah Karhutla di Lahan Gambut OKI

  • 01 Sep 2026 21:55 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Pemerintah memperkuat kolaborasi lintas sektor untuk menangani ancaman karhutla di kawasan gambut OKI.
  • Sebanyak 37 hotspot di Sumatera Selatan diverifikasi dan 11 titik ditemukan sebagai fire spot.
  • OKI menyiapkan penguatan personel, sarana, dan deteksi dini untuk menghadapi potensi karhutla.

RRI.CO.ID, OKI - Pemerintah memperkuat sinergi lintas sektor untuk menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Ogan Komering Ilir. Langkah tersebut dilakukan karena kawasan gambut masih memiliki tingkat kerawanan kebakaran yang tinggi.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni bersama Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto meninjau kesiapan penanganan karhutla. Peninjauan berlangsung di Kantor Manggala Agni Daops Sumatera XVII/OKI, Kayuagung, Sumatera Selatan, Senin, 31 Agustus 2026.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru dan Bupati OKI Muchendi Mahzareki. Mereka membahas kesiapan personel, peralatan, wilayah rawan, dan strategi pengendalian karhutla.

Raja Juli Antoni menyebut penurunan jumlah titik panas menjadi perkembangan positif dalam pengendalian karhutla. Namun, pemerintah tetap meminta seluruh pihak menjaga kewaspadaan terhadap potensi kebakaran.

"Kunci pengendalian karhutla adalah pencegahan dan deteksi dini. Semua unsur harus bergerak cepat sebelum api membesar, terutama di kawasan gambut," ucap Raja Juli Antoni.

Raja Juli menjelaskan kebakaran di lahan gambut memiliki karakter berbeda dibandingkan wilayah lain. Api dapat bertahan di bawah permukaan sehingga membutuhkan pendinginan dan pembasahan berulang.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan pemerintah terus melakukan verifikasi terhadap titik panas hasil pemantauan satelit. Proses tersebut menggunakan dukungan teknologi seperti helikopter dan drone.

Dari 37 titik panas berkekuatan tinggi di Sumatera Selatan, petugas menemukan 11 titik yang masuk kategori titik api. Pemerintah juga menyiapkan operasi modifikasi cuaca pada 1 hingga 6 September 2026.

Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menegaskan penanganan karhutla membutuhkan kerja bersama seluruh pihak. Pemerintah pusat, daerah, TNI, Polri, Manggala Agni, perusahaan, dan masyarakat harus memperkuat koordinasi.

"Di sini kita tidak bisa menangani karhutla sendiri-sendiri. Kita harus bergerak dalam satu komando dan memperkuat sinergi seluruh unsur," katanya.

Bupati OKI Muchendi Mahzareki menjelaskan wilayahnya memiliki karakter lahan rawa dan gambut yang luas. Kondisi tersebut membutuhkan dukungan personel, sarana prasarana, serta sistem deteksi dini.

"OKI memiliki wilayah sangat luas dengan karakter lahan rawa dan gambut. Kami membutuhkan penguatan kolaborasi, personel, sarana prasarana, dan deteksi dini," kata Muchendi.

Muchendi menyebut keterlibatan perusahaan menjadi bagian penting dalam kesiapsiagaan karhutla. Sebanyak 176 personel KTPA dan 1.470 regu inti perusahaan disiapkan mendukung penanganan lapangan.

Pemerintah Kabupaten OKI terus memperkuat pencegahan selain melakukan pemadaman kebakaran. Upaya tersebut dilakukan bersama TNI, Polri, Manggala Agni, pemerintah desa, masyarakat, dan dunia usaha.

Pengendalian karhutla di OKI kini diarahkan pada langkah pencegahan berbasis deteksi dini. Pemerintah berharap kolaborasi lintas sektor mampu mengurangi risiko kebakaran di kawasan rawan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....