Eufemisme dan Sarkasme Pengaruhi Opini Publik
- 12 Agt 2026 11:00 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Eufemisme dan sarkasme dalam komunikasi politik digital memengaruhi cara masyarakat memahami dan menerima informasi di ruang publik digital.
- Eufemisme adalah penggunaan bahasa yang diperhalus, sedangkan sarkasme adalah bentuk kritik dengan pilihan kata yang lebih tajam dan cenderung kasar.
- Literasi digital perlu diperkuat untuk membantu masyarakat mampu memilah dan memahami informasi secara kritis sebelum membentuk opini.
RRI.CO.ID, Palembang - Penggunaan eufemisme dan sarkasme dalam komunikasi politik di media digital dinilai memengaruhi cara masyarakat memahami informasi. Karena itu, literasi digital perlu diperkuat agar masyarakat mampu memilah informasi secara kritis sebelum membentuk opini.
Widya Bahasa Madya Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan, Aminul Latif, mengatakan, eufemisme merupakan penggunaan bahasa yang diperhalus. Sementara sarkasme digunakan sebagai bentuk kritik dengan pilihan kata yang lebih tajam dan cenderung kasar.
“Eufemisme menggunakan bahasa yang diperhalus, sedangkan sarkasme memakai bahasa yang lebih kasar sebagai bentuk kritik. Keduanya sering muncul dalam komunikasi politik di media digital,” ujar Aminul dalam Dialog Literasi Digital Pro 1 RRI Palembang, Selasa, 4 Agustus 2026.
Menurutnya, perkembangan media digital membuat penyebaran informasi berlangsung sangat cepat tanpa dibatasi ruang maupun waktu. Kondisi tersebut menyebabkan masyarakat lebih mudah menerima berbagai opini, termasuk yang dikemas melalui eufemisme maupun sarkasme.
Ia menjelaskan pemilihan kata dalam komunikasi politik tidak lagi sekadar menyampaikan informasi. Bahasa juga dimanfaatkan untuk membentuk persepsi masyarakat terhadap suatu kebijakan atau peristiwa yang sedang berkembang.
Aminul juga mengingatkan masyarakat tidak langsung mempercayai informasi yang beredar di media digital hanya berdasarkan judul atau unggahan singkat. Ia menyarankan setiap informasi dikonfirmasi melalui sumber yang kredibel sebelum dibagikan kepada orang lain.
“Literasi membuat kita mampu memahami, mencermati, dan mengambil keputusan terhadap informasi yang diterima. Jangan langsung percaya, tetapi lakukan verifikasi terlebih dahulu,” ujarnya.
Ia berharap masyarakat terus meningkatkan budaya literasi agar lebih bijak menggunakan media digital. Dengan kemampuan literasi yang baik, masyarakat dapat tetap kritis tanpa mudah terjebak eufemisme maupun terbawa arus sarkasme yang berlebihan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....