Bahasa Kasar Pintu Masuk Bullying, Balai Bahasa Sumsel Peringatkan Ortu
- 06 Agt 2026 20:45 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Balai Bahasa Sumsel menegaskan kebiasaan berbahasa sejak dini menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter dan cara berpikir anak.
- Orang tua dan lingkungan perlu memberikan teladan berbahasa yang santun karena anak lebih mudah meniru perilaku daripada sekadar mendengar nasihat.
- Penggunaan bahasa yang baik dan pelestarian bahasa daerah diharapkan mampu membentuk generasi muda yang berkarakter, santun, dan berbudaya.
RRI.CO.ID, Palembang - Bahasa yang keluar dari mulut seorang anak sejatinya adalah cermin jujur dari apa yang ia rekam saban hari di rumah. Sebelum membentuk pola pikir dan tindakan, karakter seorang anak lebih dulu telanjang lewat kosa kata yang kerap diucapkannya.
Peringatan tegas ini dilayangkan oleh Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan. Kebiasaan anak mengucapkan kata-kata santun seperti tolong, maaf, dan terima kasih bukan sekadar formalitas kesopanan, melainkan cikal bakal cara mereka menghargai manusia lain.
Penelaah Teknis Kebijakan Balai Bahasa Sumsel, Yeni Afrita, menegaskan bahwa pola komunikasi keluarga memegang kendali penuh atas mentalitas generasi muda, terutama di era serbadigital saat ini.
"Karakter pertama kali tampak melalui bahasa," ujar Yeni saat menjadi narasumber siaran Obrolan Komunitas RRI Pro 4 Palembang, Senin, 27 Juli 2026.
Sebaliknya, kebiasaan mengumbar umpatan, bentakan, hingga ejekan yang kerap didengar anak dari lingkungan terdekat akan terserap tanpa filter. Anak-anak hampir tak pernah gagal meniru apa yang mereka dengar dan lihat.
"Anak tidak selalu mendengarkan nasihat orang tuanya, tetapi hampir selalu meniru perilaku orang tuanya," tegas Yeni.
Efek domino dari pembiaran bahasa yang kasar tidak berhenti pada sikap kurang sopan semata. Balai Bahasa Sumsel menyoroti bahwa toksisitas bahasa adalah akar dari lahirnya berbagai tindak kekerasan fisik maupun mental di kalangan remaja.
"Bahasa yang penuh kebencian dapat menjadi awal dari berbagai bentuk kekerasan," lanjut Yeni, merujuk pada maraknya kasus perundungan (bullying) di lingkungan sekolah maupun media sosial.
Untuk membendung ancaman krisis karakter ini, Balai Bahasa Sumsel mendorong orang tua dan pendidik berhenti sekadar memberikan nasehat lisan. Langkah paling ampuh adalah dengan menyodorkan keteladanan langsung dalam berbahasa, baik dalam bahasa Indonesia yang santun maupun pelestarian bahasa daerah sebagai akar identitas.
Garda terdepan pembentukan mental anak tidak dimulai dari kurikulum sekolah yang rumit, melainkan dari kesantunan tutur kata yang didengar anak di meja makan dan ruang keluarga setiap harinya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....