Kemenag Palembang Ajak Jadikan Safar Momentum Perbaiki Diri

  • 21 Jul 2026 22:30 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Bulan Safar dapat dijadikan momen untuk memperbaiki diri dengan mengambil teladan hijrah Nabi Muhammad SAW yang penuh makna spiritual.
  • Hijrah Nabi Muhammad dimulai pada penghujung bulan Safar dan menjadi titik penting dalam sejarah penyebaran Islam di Madinah.
  • Nilai hijrah mengajarkan empat prinsip utama yaitu ketakwaan, kesabaran, keberanian, dan ketulusan dalam memperjuangkan kebaikan.

RRI.CO.ID, Palembang - Bulan Safar menjadi momentum bagi umat Islam untuk memperbaiki diri dengan meneladani hijrah Nabi Muhammad SAW. Semangat hijrah mengajarkan ketakwaan, kesabaran, keberanian, dan ketulusan dalam menjalankan kebaikan.

Pesan tersebut disampaikan Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kota Palembang, Asep Saepuddin, dalam Program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Palembang, Senin, 20 Juli 2026. Menurutnya, hijrah Nabi Muhammad SAW dimulai pada penghujung bulan Safar dan menjadi tonggak penting perkembangan Islam di Madinah.

"Bulan Safar bukan bulan pembawa kesialan, tetapi momentum memperbaiki diri melalui teladan hijrah Nabi Muhammad SAW," ujarnya.

Asep mengatakan anggapan Safar sebagai bulan pembawa kesialan berasal dari tradisi masyarakat Arab pada masa jahiliah. Rasulullah SAW kemudian meluruskan pandangan tersebut melalui ajaran Islam yang menolak tahayul dan keyakinan tanpa dasar.

Ia menjelaskan keberkahan bulan Safar dapat diraih dengan meningkatkan ketakwaan dan memperkuat tawakal kepada Allah. Sikap tersebut akan membentuk ketenangan hati dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Asep mengajak umat Islam memperbanyak istigfar, sedekah, serta berbagai amal saleh selama bulan Safar. Menurutnya, amalan tersebut menjadi ikhtiar mendekatkan diri kepada Allah sekaligus meningkatkan kualitas keimanan.

Selain memperbanyak ibadah, ia mengingatkan semangat hijrah harus diwujudkan melalui perubahan perilaku menjadi lebih baik. Perubahan itu dimulai dari diri sendiri sebelum mengajak orang lain melakukan kebaikan.

Asep menegaskan tradisi mandi di pantai untuk menghilangkan kesialan pada bulan Safar tidak memiliki dasar dalam syariat Islam. Keselamatan dan perlindungan, menurutnya, hanya diperoleh melalui keimanan, doa, dan amal saleh.

Ia berharap masyarakat memanfaatkan bulan Safar untuk memperkuat ibadah dan memperbaiki akhlak. Nilai-nilai hijrah Nabi Muhammad SAW diharapkan menjadi inspirasi dalam membangun kehidupan yang lebih baik dan bermanfaat bagi sesama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....