Bertahan 15 Tahun, Dahlan Ubah Barang Rongsok Jadi Cuan Demi Keluarga
- 19 Jul 2026 20:25 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Dahlan adalah tukang rongsok tradisional yang telah menjalani profesinya selama 15 tahun di Kota Palembang dengan tetap menggunakan gerobak dorong.
- Meskipun banyak pencari rongsok lainnya telah beralih menggunakan sepeda motor, Dahlan memilih bertahan dengan cara tradisional karena pekerjaan tersebut adalah mata pencaharian utamanya.
- Barang bekas yang dikumpulkan Dahlan melalui gerobak dorong kemudian dijual kembali ke agen, menunjukkan keberlanjutan model bisnis informal di sektor daur ulang.
RRI.CO.ID, Palembang - Di tengah berkembangnya penggunaan sepeda motor dalam mengumpulkan barang bekas, masih ada pencari rongsok yang bertahan berkeliling dengan berjalan kaki. Salah satunya adalah Dahlan, tukang rongsok tradisional yang telah menjalani pekerjaan tersebut selama 15 tahun di Kota Palembang.
Dahlan memilih tetap menggunakan gerobak dorong karena pekerjaan itu telah menjadi mata pencaharian utamanya. Meski membutuhkan tenaga lebih besar, cara tersebut masih dijalani untuk mengumpulkan barang bekas yang kemudian dijual kembali ke agen.
Menurut Dahlan, pekerjaan sebagai tukang rongsok bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ia juga menilai aktivitas tersebut ikut membantu mengurangi sampah yang masih memiliki nilai ekonomi.
“Sudah 15 tahun saya kerja seperti ini. Walaupun capek, ini sudah jadi mata pencaharian utama untuk menghidupi keluarga,” ujar Dahlan saat ditemui di kawasan Lampu Merah Boom Baru, Palembang, Minggu, 19 Juli 2026.
Setiap hari, Dahlan mulai berkeliling sejak pukul 06.00 WIB. Rute yang ditempuh mencapai kawasan Veteran, sementara waktu pulang tidak menentu karena menyesuaikan hasil yang diperoleh.
“Kalau gerobak belum penuh biasanya saya belum pulang. Kadang kalau sudah malam dan belum sempat pulang, saya menginap dulu di tempat agen karena rumah saya jauh,” katanya.
Barang yang dikumpulkan berupa botol plastik, plastik bekas minuman, kardus, dan besi bekas. Dari berbagai jenis tersebut, plastik bekas minuman menjadi barang yang paling sering ditemukan.
Setelah terkumpul dalam jumlah cukup banyak, seluruh barang dijual kembali kepada agen pengepul. Harga plastik bekas minuman mencapai Rp13.000 per kilogram, sedangkan besi dihargai sekitar Rp5.000 per setengah kilogram.
Dalam satu gerobak, Dahlan mengaku paling banyak dapat membawa sekitar empat kilogram plastik bekas minuman. Pendapatan yang diperoleh juga tidak menentu, dengan penghasilan tertinggi sekitar Rp60.000 dalam sehari.
Menurut Dahlan, tantangan terbesar pekerjaannya adalah harus berjalan kaki sambil mendorong gerobak setiap hari. Selain menghadapi cuaca yang tidak menentu, ia juga kerap dicurigai warga saat memasuki kawasan permukiman.
“Harga rongsokan juga sering naik turun. Kadang hasil yang didapat tidak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan, sementara kebutuhan keluarga tetap harus dipenuhi,” ujarnya.
Meski demikian, Dahlan tetap bertahan menjalani pekerjaannya. Ia berharap pemerintah memberikan perhatian kepada para pencari nafkah kecil yang turut membantu menjaga kebersihan lingkungan melalui pengumpulan sampah yang masih bisa didaur ulang.
“Harapan saya pemerintah bisa lebih memperhatikan kami. Semoga ada bantuan untuk pencari nafkah kecil seperti saya, karena pekerjaan ini juga ikut membantu membersihkan lingkungan,” tuturnya.
Laporan: M. Wirya Gunawan, Mahasiswa magang Jurusan Ilmu Komunikasi UIn Raden Fatah Palembang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....