Di Tengah Teknologi Modern, Profesi Tukang Jam Tetap Bertahan
- 30 Jun 2026 19:00 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Jasa perbaikan jam analog masih bertahan meski jam digital semakin populer.
- Biaya jasa perbaikan komponen mesin jam analog sekitar Rp600 ribu hingga Rp1 juta .
RRI.CO.ID, Palembang - Jasa perbaikan jam analog di Pasar Lemabang, Palembang, tetap bertahan meski penggunaan perangkat digital semakin berkembang. Pelanggan masih memanfaatkan layanan tersebut untuk memperbaiki jam tangan dan jam dinding yang dimiliki.
Keberadaan usaha ini menunjukkan kebutuhan masyarakat terhadap perawatan jam analog masih tetap ada. Teknisi servis jam, M. Toha, mengaku telah menekuni profesi tersebut selama lebih dari dua dekade, keahliannya ini merpakan tradisi keluarga yang diwariskan secara turun-temurun.
"Profesi ini sudah saya jalani lebih dari 20 tahun. Keahlian memperbaiki jam saya pelajari dari keluarga," ujarnya, Minggu, 29 Juni 2026.
Menurut Toha, pelanggannya berasal dari kalangan usia dewasa dan lanjut usia. Mereka mempertahankan jam lama karena memiliki nilai sejarah, kenangan, atau sentimental bagi keluarga.
"Banyak pelanggan mempertahankan jam lamanya karena memiliki nilai kenangan. Mereka lebih memilih memperbaikinya daripada membeli jam baru," katanya.
Jam tangan menjadi jenis perangkat yang paling banyak diperbaiki dibandingkan jam dinding. Kerusakan pada komponen mesin masih mendominasi keluhan yang disampaikan pelanggan.
Toha menjelaskan kerusakan pada bagian IC menjadi pekerjaan yang paling banyak ditangani. Perbaikan jam otomatis atau jam mekanik umumnya membutuhkan waktu dan keterampilan yang lebih tinggi.
"Kerusakan IC paling sering kami tangani. Kalau jam otomatis atau jam mekanik, pengerjaannya memang lebih rumit," tuturnya.
Biaya servis disesuaikan dengan tingkat kerusakan dan jenis komponen yang harus diganti. Penggantian IC berkisar Rp600 ribu, sedangkan perbaikan jam bermerek dapat mencapai Rp1 juta.
Selain menerima jasa perbaikan, Toha juga menjual baterai jam untuk mendukung usahanya. Penjualan aksesori tersebut membantu menjaga pendapatan di tengah perubahan pola konsumsi masyarakat.
Ia mengakui jumlah pelanggan tidak seramai beberapa tahun lalu karena perkembangan teknologi digital. Meski demikian, permintaan terhadap servis jam analog masih tetap bertahan hingga saat ini.
"Selama masih ada pelanggan, saya akan tetap menjalani profesi ini. Saya berharap usaha servis jam analog kembali ramai seperti dahulu," ujarnya.
Keberlangsungan usaha tersebut menunjukkan bahwa nilai fungsional dan emosional sebuah barang masih dihargai masyarakat. Bagi sebagian orang, memperbaiki jam lama menjadi pilihan yang lebih bermakna dibandingkan menggantinya dengan yang baru.
Laporan Aditya Dwi Permana, mahasiswa magang Fakultas Ilmu Komunikasi UIN Raden Fatah Palembang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....