Jalan Lubuk Batang OKU Segera Dicor Beton, Target Mulai Juli 2026
- 22 Jun 2026 17:05 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Koordinasi dengan PT KAI memastikan bahwa penggalian jalan tidak akan mengganggu pondasi jembatan kereta api lama, sehingga proyek dapat dilanjutkan ke tahap konstruksi.
- Kedalaman galian dibatasi oleh muka air tanah yang tinggi di kedalaman 1,2 meter, sehingga tinggi bebas kendaraan tetap dipertahankan pada 3,1 meter sesuai desain awal.
- Proyek rekonstruksi bawah rel sepanjang 150 meter ini merupakan bagian dari paket senilai Rp9,2 miliar yang ditargetkan mulai dikerjakan pada Juli 2026 menggunakan konstruksi beton rigid.
RRI.CO.ID, Palembang - Rencana perbaikan permanen jalan nasional di bawah perlintasan kereta api Lubuk Batang, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), kini memasuki babak baru. Setelah sempat tertunda akibat efisiensi anggaran di tahun sebelumnya, Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Sumatera Selatan memastikan pengerjaan fisik utama akan segera dimulai setelah serangkaian kendala teknis dan koordinasi berhasil diatasi.
Salah satu tantangan terbesar dalam proyek ini adalah keberadaan infrastruktur lama di bawah badan jalan. Tim teknis sempat mengkhawatirkan adanya pondasi abutment peninggalan zaman Belanda dari jembatan kereta api yang dapat terganggu saat penggalian. Namun, setelah melakukan koordinasi intensif dengan PT KAI (Persero) Divre IV Tanjung Karang dan pengecekan gambar as-built drawing, kekhawatiran tersebut sirna.
"Sudah kami pastikan itu insyaallah aman untuk kami gali, khawatirnya kami begitu gali tahu-tahu masih ada pondasi abutmen yang lama," ungkap Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 3.4 PJN III BBPJN Sumatera Selatan, Hastinawati, saat memberikan update terkait proyek tersebut, Senin, 22 Juni 2026.
Baca juga: Penanganan Permanen Jalan Lubuk Batang OKU Mulai 2026
Selain masalah struktur, tantangan alam berupa muka air tanah yang tinggi juga menjadi pertimbangan dalam desain. Meskipun ada aspirasi untuk menambah ketinggian batas bebas (clearance) agar kendaraan besar lebih leluasa lewat, tim teknis memutuskan untuk tetap mempertahankan angka 3,1 meter. Hal ini dikarenakan penggalian lebih dalam tidak memungkinkan secara teknis.
"Muka air tanah itu ada di 1,2 meter ke dalam. Jadi tidak memungkinkan untuk melebihkan tinggi itu, tetap dipertahankan 3,1 meter," jelas Hasti. Ia menambahkan bahwa rekonstruksi sepanjang 150 meter ini akan menggunakan cor beton atau rigid pavement, mengingat kondisi jalan yang berada di cekungan dan rawan genangan air.
Proyek yang menjadi bagian dari paket preservasi jalan dan jembatan ruas Prabumulih hingga Baturaja ini memiliki nilai kontrak sekitar Rp9,2 miliar. Meski sempat tersendat karena kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) industri yang berdampak pada ketersediaan material, BBPJN optimis pengerjaan di area bawah rel bisa dimulai pada awal Juli 2026.

Sambil menunggu pengerjaan permanen dimulai, pihak penyedia jasa tetap diwajibkan melakukan pemeliharaan rutin agar jalan tetap fungsional. Upaya perataan jalan dengan agregat dan alat berat terus dilakukan agar kendaraan, terutama mobil kecil, tetap bisa melintas dengan aman.
"Dipilihlah oleh perencananya kemarin itu rigid beton itu baik. Kalau aspal kan dia tidak akan bertahan lama kalau ada genangan air," pungkas Hasti menekankan solusi jangka panjang bagi masalah menahun di lokasi tersebut.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....