Ribuan Titik Panas Terdeteksi di Sumsel hingga Pertengahan Juni
- 18 Jun 2026 08:05 WIB
- Palembang
RRI.CO.ID, Palembang - Sebanyak 1.500 titik panas (hotspot) terdeteksi di wilayah Propinsi Sumatera Selatan (Sumsel) selama periode 1 Januari hingga 14 Juni 2026. Jumlah itu dicatat dan terus dipantau Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel.
“Berdasarkan data pemantauan hingga 14 Juni 2026, jumlah hotspot di Sumatera Selatan mencapai 1.500 titik. Konsentrasi tertinggi berada di sejumlah daerah rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla,” kata Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, Rabu, 17 Juni 2026.
Sudirman menjelaskan Kabupaten Muara Enim menjadi wilayah dengan jumlah hotspot tertinggi, yakni sebanyak 302 titik. Jumlah tersebut tersebar mulai Februari hingga pertengahan Juni dengan peningkatan signifikan pada Mei dan Juni.
Kemudian, Kabupaten Lahat dengan 283 hotspot, disusul Kabupaten Musi Banyuasin sebanyak 167 hotspot, Musi Rawas Utara 155 hotspot, dan Musi Rawas sebanyak 128 hotspot.
Sementara di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) yang rawan terjadi Karhutla mencatat 82 hotspot, jumlah itu sama dengan titik hotspot di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI). Untuk Banyuasin 55 hotspot, Ogan Komering Ulu (OKU) 52 hotspot, serta OKU Timur 52 hotspot.
Untuk wilayah perkotaan titik hotspot terpantau lebih sedikit. Kota Prabumulih tercatat memiliki 26 hotspot, Kota Lubuk Linggau 12 hotspot, Kota Palembang 10 hotspot, dan Kota Pagar Alam hanya empat hotspot.
Tren peningkatan hotspot mulai terlihat sejak April dan mencapai puncaknya pada Mei 2026. Pada Januari tercatat 75 hotspot, Februari 54 hotspot, Maret 107 hotspot, April 150 hotspot, kemudian melonjak menjadi 708 hotspot pada Mei. Hingga pertengahan Juni, jumlah hotspot yang terdeteksi mencapai 406 titik.
“Lonjakan hotspot pada Mei hingga Juni menjadi perhatian kami karena berpotensi meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan, terutama di daerah yang selama ini menjadi wilayah rawan karhutla,” jelas Sudirman
BPBD Sumsel bersama TNI, Polri, Manggala Agni, Dinas Kehutanan, serta pemerintah kabupaten dan kota terus melakukan patroli darat dan udara, pemantauan hotspot, serta sosialisasi kepada masyarakat untuk mencegah kebakaran lahan. Selain itu, personel dan peralatan pemadaman juga disiagakan guna mengantisipasi kemungkinan terjadinya karhutla selama musim kemarau.
BPBD Sumsel, ditegaskan Sudirman juga mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Kebakaran memicu kebakaran yang lebih luas dan berdampak terhadap lingkungan maupun kesehatan masyarakat.
“Kami mengajak masyarakat untuk bersama-sama mencegah karhutla dengan tidak melakukan pembakaran lahan dan segera melaporkan apabila menemukan titik api agar dapat ditangani lebih cepat,” ujar Sudirman.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....