BBPJN Fokus Rekonstruksi 8 Km Jalan Nasional Mangunjaya–Muara Beliti
- 17 Jun 2026 16:10 WIB
- Palembang
Poin Utama
- BBPJN Sumsel melalui Satker PJN Wilayah I terus melakukan perbaikan ruas jalan nasional Mangunjaya–Muara Beliti.
- Penanganan dilakukan melalui paket preservasi jalan skema multi years contract (MYC) hingga 2027.
- Tahun 2026 difokuskan untuk rekonstruksi sekitar 8 kilometer titik kerusakan terparah dari total ruas 26 kilometer.
RRI.CO.ID, Palembang - Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN) Wilayah Sumatera Selatan terus mempercepat penanganan ruas jalan nasional Mangunjaya–Muara Beliti yang menjadi jalur penghubung penting antara Kabupaten Musi Banyuasin dan Kabupaten Musi Rawas.
Perbaikan dilakukan melalui paket preservasi jalan dengan skema multi years contract (MYC) yang direncanakan berlangsung hingga 2027. Program tersebut difokuskan untuk memulihkan kondisi jalan yang mengalami kerusakan cukup berat akibat dampak banjir serta tingginya intensitas kendaraan bertonase besar yang melintas setiap hari.
Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional (PJN) Wilayah I Sumatera Selatan, Alfredo Lukman, mengatakan pekerjaan saat ini berjalan sesuai tahapan yang telah ditetapkan. "Ruas Mangunjaya sampai Muara Beliti terus kami tangani melalui paket preservasi jalan. Paket ini merupakan paket multi years yang pelaksanaannya berlangsung hingga tahun 2027," kata Alfredo, Rabu, 17 Juni 2026.
Menurut Alfredo, progres pekerjaan berdasarkan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Tahun 2026 telah mencapai sekitar 20 persen dari alokasi anggaran tahun berjalan. Namun jika dihitung secara keseluruhan terhadap kontrak multiyears, progres fisiknya masih berada pada kisaran 6 hingga 7 persen.
Dalam paket pekerjaan tersebut, total ruas yang ditangani mencapai sekitar 26 kilometer. Dari panjang tersebut, sekitar 8 kilometer menjadi prioritas rekonstruksi pada 2026 karena mengalami kerusakan paling parah. Sementara sisa ruas lainnya akan dilanjutkan pada 2027.
"Tahun ini kami fokus menuntaskan daerah-daerah rekonstruksi yang paling parah sepanjang kurang lebih 8 kilometer. Targetnya minimal sampai lapis AC Base dan semaksimal mungkin bisa mencapai lapis AC-BC. Penyelesaian penuh akan dilanjutkan pada tahun 2027," ujarnya.
Meski pengaspalan belum dilakukan secara menyeluruh, BBPJN Sumsel memastikan penanganan awal telah dilakukan hampir di seluruh titik kerusakan. Kegiatan tersebut meliputi penutupan lubang, pemasangan underlayer, hingga penambahan material agregat kelas B dan agregat kelas A guna menjaga kelayakan jalan bagi pengguna.
Alfredo menjelaskan perbaikan awal tersebut telah menjangkau sekitar 25 kilometer ruas jalan yang rusak. "Penanganan sepanjang kurang lebih 25 kilometer sudah kami lakukan tahun ini. Artinya, pekerjaan penutupan lubang sudah dilaksanakan, mulai dari underlayer hingga agregat B dan agregat A. Namun untuk pengaspalan dilakukan secara parsial mengikuti ketersediaan anggaran," jelasnya.
Ia menambahkan, proses penyiapan badan jalan sebenarnya telah rampung sejak awal Maret 2026. Namun tingginya curah hujan serta lalu lintas kendaraan berat membuat sejumlah titik kembali mengalami penurunan kondisi. Karena itu, pemeliharaan rutin terus dilakukan agar badan jalan tetap stabil sebelum memasuki tahap pengaspalan permanen.
BBPJN Sumsel mencatat terdapat sekitar 10 hingga 12 titik kerusakan berat yang menjadi prioritas rekonstruksi tahun ini. Panjang masing-masing segmen bervariasi, mulai dari 200 meter hingga 500 meter. "Kurang lebih ada 10 sampai 12 titik kerusakan berat yang kami rekonstruksi tahun ini. Panjang tiap titik berbeda-beda, ada yang sekitar 200 meter dan ada yang mencapai 500 meter," ungkap Alfredo.
Ia menegaskan seluruh pekerjaan rekonstruksi pada titik-titik terparah tersebut ditargetkan rampung pada 2026. Setelah itu, pekerjaan pengaspalan pada ruas lainnya akan dilanjutkan melalui alokasi pekerjaan tahun 2027.
Di sisi lain, Alfredo mengakui kondisi jalan saat ini masih belum ideal dan belum sepenuhnya memenuhi harapan masyarakat. Selain keterbatasan anggaran, kerusakan jalan juga dipengaruhi dampak banjir besar yang terjadi pada 2023 dan 2024 yang menyebabkan penurunan struktur pondasi jalan di banyak titik.
"Kami memohon maaf kepada masyarakat karena kondisi jalan saat ini memang belum bisa kami tangani secara maksimal. Selain keterbatasan anggaran, ada faktor kendaraan berat dan dampak banjir pada tahun 2023 serta 2024 yang menyebabkan hampir seluruh pondasi jalan mengalami penurunan signifikan," katanya.
Meski demikian, BBPJN Sumsel memastikan komitmen untuk terus melakukan pemeliharaan dan percepatan pekerjaan agar ruas Mangunjaya–Muara Beliti dapat kembali berfungsi optimal sebagai jalur utama mobilitas masyarakat dan distribusi logistik di Sumatera Selatan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....