BMKG: Kemarau di Sumsel Berpotensi Lebih Kering dan Panjang

  • 03 Jun 2026 19:35 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • BMKG SMB II Palembang mengingatkan masyarakat Sumatera Selatan untuk meningkatkan kewaspadaan karena sebagian besar wilayah telah memasuki musim kemarau sejak Juni 2026 setelah melewati masa pancaroba sejak awal Mei.
  • Musim kemarau tahun ini dipengaruhi fenomena El Nino yang menyebabkan curah hujan berkurang, sehingga kemarau berpotensi lebih kering dan lebih panjang. Istilah "El Nino Godzilla" bukan istilah resmi dalam kajian klimatologi.
  • BMKG mengingatkan potensi meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kabut asap, serta gangguan kesehatan seperti ISPA, terutama di wilayah rawan seperti OKI, Ogan Ilir, Banyuasin, PALI, dan Musi Banyuasin.

RRI.CO.ID, Palembang - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak musim kemarau yang saat ini mulai mendominasi wilayah Sumatera Selatan. Selain berkurangnya curah hujan, musim kemarau juga berpotensi memicu berbagai risiko kesehatan dan bencana lingkungan.

Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badarudin (SMB) II Palembang, Siswanto menjelaskan bahwa sejak awal Mei 2026, Sumatera Selatan telah memasuki masa pancaroba atau masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau. Memasuki Juni, sebagian besar wilayah Sumatera Selatan secara umum sudah berada pada fase musim kemarau.

Menurut BMKG, karakteristik musim kemarau tahun ini dipengaruhi oleh fenomena iklim global El Nino. Fenomena tersebut menyebabkan curah hujan berkurang sehingga musim kemarau berpotensi berlangsung lebih kering dan lebih panjang dibandingkan kondisi normal.

"Muncul istilah “El Nino Godzilla” BMKG menegaskan bahwa istilah tersebut tidak dikenal dalam kajian klimatologi resmi. BMKG hanya mengenal kategori El Nino lemah, sedang dan kuat," ujar Siswanto, Rabu, 3 Juni 2026.

Meski di masyarakat muncul istilah “El Nino Godzilla”, BMKG menegaskan bahwa istilah tersebut tidak dikenal dalam kajian klimatologi resmi. BMKG hanya mengenal kategori El Nino lemah, sedang dan kuat. Istilah “El Nino Godzilla” lebih merupakan penyebutan populer untuk menggambarkan dampak El Nino kuat yang dinilai cukup signifikan.

Siswanto menekankan bahwa informasi mengenai El Nino tidak dimaksudkan untuk menimbulkan ketakutan di tengah masyarakat. Sebaliknya, informasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat terhadap berbagai potensi dampak yang mungkin terjadi selama musim kemarau.

Salah satu dampak yang perlu diwaspadai adalah meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di daerah yang memiliki lahan gambut luas. Kebakaran tersebut dapat memicu munculnya kabut asap yang berdampak pada kesehatan masyarakat, khususnya penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan gangguan pernapasan lainnya.

Beberapa wilayah yang dinilai memiliki tingkat kerawanan lebih tinggi antara lain Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Ogan Ilir, Banyuasin serta sebagian wilayah PALI dan Musi Banyuasin. BMKG juga mengingatkan bahwa fenomena El Nino memiliki periode berulang sekitar tiga hingga empat tahun, seperti yang terjadi pada 2015, 2019 dan 2023.

Dengan pola yang serupa diperkirakan kembali terjadi pada 2026, Siswanto mengimbau kepada masyarakat diharapkan lebih siap menghadapi potensi kekeringan yang lebih panjang dan kondisi cuaca yang lebih kering di Sumatera Selatan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....