Panas Ekstrem di Sumsel Tingkatkan Risiko Kebakaran Hutan dan Lahan

  • 31 Mei 2026 23:56 WIB
  •  Palembang

RRI.CO.ID, Sumsel – Kondisi cuaca panas yang mulai melanda sejumlah wilayah di Sumatera Selatan (Sumsel) dalam beberapa pekan terakhir meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di kawasan lahan gambut yang mudah mengering saat musim kemarau.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim kemarau tahun 2026 di Sumsel berlangsung lebih kering dari kondisi normal. Bahkan, puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus 2026 dengan potensi penurunan curah hujan akibat pengaruh fenomena El Nino yang mulai menguatkan.

Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, M. Siswanto, ST, M.Si menyebutkan bahwa kondisi tersebut harus diwaspadai karena dapat meningkatkan risiko munculnya titik panas dan kebakaran lahan, khususnya di wilayah gambut yang selama ini menjadi daerah rawan karhutla. "Berdasarkan pemantauan BMKG, peluang berkembangnya El Nino kategori moderat mencapai sekitar 92 persen, sehingga berpotensi menyebabkan cuaca lebih panas dan kering dibanding biasanya," jelasnya, Sabtu 30 Mei 2026.

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan telah menetapkan status siaga darurat bencana asap sejak April 2026 sebagai langkah antisipasi menghadapi ancaman karhutla. BMKG bersama BNPB juga melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menjaga kelembapan lahan dan mengurangi risiko meluasnya titik api.

Selain itu, BMKG mencatat adanya peningkatan indeks bahan bakar halus (FFMC), yaitu indikator yang menunjukkan tingkat kemudahan vegetasi kering terbakar. Kondisi ini dipicu oleh berkurangnya curah hujan dan meningkatnya suhu udara di beberapa wilayah Sumsel.

Berdasarkan pemetaan BPBD Sumsel, terdapat 12 kabupaten dan kota yang masuk kategori prioritas rawan karhutla, di antaranya Ogan Komering Ilir (OKI), Banyuasin, Musi Banyuasin, Muara Enim, Lahat, dan Ogan Komering Ulu Selatan. Wilayah-wilayah tersebut memiliki karakteristik lahan gambut dan riwayat kebakaran yang cukup tinggi saat musim kemarau.

Pemerintah melalui Kepala Badan Rehabilitasi BPBD Sumsel, Ansori, mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan titik api di lingkungan sekitar. "Upaya pencegahan dini dinilai menjadi langkah paling efektif untuk menghindari terjadinya bencana asap yang dapat mengganggu kesehatan, aktivitas ekonomi, dan transportasi di Sumatera Selatan," tutupnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....