Hotspot Melonjak Tajam, Sumsel Perkuat Antisipasi Karhutla
- 31 Mei 2026 21:00 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Hotspot di Sumsel melonjak menjadi 117 titik, menandakan meningkatnya ancaman karhutla seiring masuknya musim kemarau.
- Lahat, Muara Enim, dan Musi Banyuasin menjadi daerah dengan jumlah hotspot tertinggi sepanjang 2026.
- BPBD Sumsel meminta daerah rawan segera menetapkan status siaga dan mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar.
RRI.CO.ID, Palembang - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan (Sumsel) mencatat peningkatan signifikan jumlah titik panas (hotspot) di wilayah Sumsel. Setelah sebelumnya terpantau 81 titik, kini jumlah hotspot harian melonjak menjadi 117 titik.
Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, mengatakan hingga 30 Mei 2026 tercatat sebanyak 542 hotspot sepanjang bulan Mei. Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan bulan-bulan sebelumnya dan menjadi indikator meningkatnya potensi karhutla di sejumlah daerah.
“Terjadi peningkatan signifikan angka hotspot pada beberapa hari di akhir Mei ini. Hal ini seiring dengan masuknya musim kemarau di seluruh wilayah Sumsel,” kata Sudirman, Minggu 31 Mei 2026.
Ia mengatakan, lonjakan hotspot terjadi akibat cuaca yang semakin panas dan berkurangnya curah hujan di berbagai wilayah. Kondisi tersebut berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan apabila tidak diantisipasi sejak dini.
Data BPBD Sumsel mencatat jumlah hotspot pada Januari 2026 sebanyak 75 titik, Februari 54 titik, Maret 107 titik, dan April 150 titik. Sementara total hotspot yang terpantau sepanjang tahun 2026 telah mencapai 928 titik.
Kabupaten Lahat menjadi daerah dengan jumlah hotspot tertinggi, yakni 209 titik. Posisi berikutnya ditempati Muara Enim dengan 179 titik dan Musi Banyuasin sebanyak 110 titik.
Berdasarkan data BPBD Sumsel per 31 Mei 2026 pukul 05.30 WIB, terdapat 28 hotspot yang terpantau, terdiri atas 12 titik di Muara Enim, delapan titik di Lahat, lima titik di Musi Rawas Utara (Muratara), dua titik di Musi Banyuasin, dan satu titik di Ogan Ilir. Selain itu, patroli udara yang dilakukan Subsatgas Udara pada 30 Mei 2026 menemukan enam kejadian karhutla.
Rinciannya, dua lokasi di Muara Enim, dua lokasi di Kabupaten PALI, serta masing-masing satu lokasi di Banyuasin dan Musi Banyuasin. Menghadapi kondisi tersebut, BPBD Sumsel meminta pemerintah daerah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap karhutla segera menetapkan status siaga guna memperkuat upaya pencegahan dan penanganan.
“Status siaga penting agar pemerintah daerah lebih siap dalam melakukan pencegahan dan penanganan, karena di beberapa wilayah sudah terjadi karhutla,” kata Sudirman. BPBD Sumsel juga mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Warga diminta segera melaporkan kepada aparat setempat apabila menemukan asap maupun titik api di kawasan hutan, perkebunan, atau lahan kosong. Sudirman menambahkan, hampir seluruh wilayah Sumsel saat ini memiliki potensi tinggi terjadinya kebakaran karena lapisan atas permukaan tanah, termasuk lahan gambut dan semak belukar, mulai mengering akibat musim kemarau.
“Kondisi ini harus menjadi perhatian bersama. Mengingat agar kejadian karhutla tidak meluas dan dapat dicegah sejak dini,” ungkapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....