Pendidikan Gratis Berbasis Lingkungan di Palembang
- 22 Feb 2026 09:06 WIB
- Palembang
RRI. CO.ID, Palembang - Sekolah Qur’anpreneur Indonesia menerapkan sistem pendidikan gratis berbasis pengelolaan sampah organik bagi siswanya. Model tersebut diperkenalkan dalam Opening Desa Qur’an Festival II di Sungai Selayur pada Jumat 20 Februari 2026.
Festival digelar dalam rangka menyambut Ramadhan 1447 Hijriah dan menghadirkan seratus tokoh inspiratif Sumatera Selatan. Kegiatan dipusatkan di lingkungan SQI Jalan Lebak Jaya III Palembang.
Siswa tidak membayar iuran bulanan sebagaimana sekolah formal lainnya. Sebagai pengganti, mereka wajib membawa tiga kilogram sampah organik setiap bulan.
Sampah tersebut dikelola melalui sistem Bank Sampah terintegrasi dalam kurikulum pembelajaran. Hasilnya diolah menjadi kompos dan pupuk cair organik bernilai ekonomis.
Produk olahan kemudian dipasarkan kepada masyarakat sekitar lingkungan sekolah. Pendapatan penjualan digunakan untuk mendukung operasional pendidikan siswa.
Asisten II Setda Kota Palembang Isnaini Madani mengapresiasi inovasi pendidikan tersebut, konsep yang diterapkan kreatif, edukatif, sekaligus berdampak positif terhadap lingkungan. “Ini merupakan langkah yang sangat kreatif, edukatif sekaligus berdampak positif terhadap lingkungan,” ujarnya.
Menurutnya siswa tidak hanya belajar menjaga lingkungan sejak dini, juga memahami proses produksi hingga nilai ekonomi hasil daur ulang. “Kami memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas inisiatif yang telah diterapkan, semoga program ini terus berkembang dan menjadi amal jariyah bagi semua pihak,” pungkasnya.
Kepala Desa Qur’an Muhammad Syafi’i menyampaikan SQI mengintegrasikan pendidikan formal, tahfidz, dan keterampilan praktis, siswa juga dilatih bercocok tanam sebagai bagian kewirausahaan berbasis praktik. "Selain pengelolaan sampah organik, para siswa juga dibekali keterampilan bercocok tanam sebagai praktik kewirausahaan," ujarnya.
Rangkaian festival akan berlangsung hingga 13 Maret 2026 dengan puncak khataman Al-Quran. Sebanyak 389 anak yatim dan dhuafa penghafal Al-Quran dijadwalkan mengikuti doa bersama.
Program ini diharapkan menjadi model pendidikan alternatif berbasis komunitas berkelanjutan. Konsep tersebut menggabungkan penguatan spiritual, kemandirian ekonomi, dan pengurangan limbah rumah tangga.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....