Batuk dan Sesak Saat Kabut Asap, Waspadai Serangan Asma
- 21 Sep 2026 09:50 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Tanda awal penyakit asma bisa kambuh yang harus diperhatikan ketika kabut asap saat ini yaitu batuk disertai dengan rasa sesak pada dada yang disertai bunyi ketika menarik nafas.
- kondisi kabut asap penderita asma dianjurkan mengurangi aktivitas diluar rumah.
- perlu konsultasi dengan tenaga kesehatan karena beberapa obat dapat menimbulkan masalah bagi penderita asma atau pasien yang memiliki penyakit penyerta.
RRI.CO.ID, Palembang - Kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat memicu gangguan pernapasan, terutama pada masyarakat yang memiliki riwayat asma. Batuk disertai sesak dada dan bunyi mengi ketika menarik napas menjadi tanda yang perlu diwaspadai.
Hal tersebut disampaikan Apoteker RS Islam Arasyid Pretti Marsyanda Putri saat menjadi narasumber program Indonesia Sehat di Studio Pro 1 RRI Palembang. Dialog tersebut berlangsung pada Jumat, 18 September 2026.
Pretti menjelaskan paparan asap tidak otomatis membuat orang yang sebelumnya sehat menjadi penderita asma. Namun, partikel halus dari asap karhutla dapat mengiritasi saluran pernapasan dan memicu berbagai gangguan.
“Partikel halus dari asap dapat menimbulkan iritasi pada saluran pernapasan dan menimbulkan gangguan pernapasan, inilah menjadi salah satu pemicu serangan asma,” ujarnya.
Paparan tersebut menjadi perhatian bagi penderita asma karena saluran pernapasan mereka lebih sensitif terhadap pemicu tertentu. Asap karhutla dapat memperburuk gejala yang sebelumnya terkendali dan meningkatkan risiko munculnya serangan.
Dalam kondisi tersebut, pemahaman mengenai penggunaan obat menjadi bagian penting dalam pengendalian asma. Pretti mengatakan apoteker dapat membantu pasien memahami penggunaan inhaler, dosis, efek samping, serta cara menyimpan obat dengan benar.
Penderita asma umumnya memiliki obat pengontrol dan obat pelega dengan fungsi yang berbeda. Obat pengontrol digunakan untuk menjaga penyakit tetap terkendali, sedangkan obat pelega digunakan ketika gejala atau serangan muncul sesuai petunjuk dokter.
Kondisi kabut asap juga membuat penderita asma perlu lebih cermat mengurangi paparan lingkungan. Pretti menganjurkan penderita mengurangi aktivitas di luar rumah dan menggunakan masker jika harus beraktivitas di luar.
Obat yang telah diresepkan dokter juga perlu dibawa ketika penderita harus bepergian. Langkah tersebut dapat membantu mengantisipasi munculnya gejala selama berada di tengah paparan asap.
Perlindungan dari paparan asap juga perlu dilakukan ketika berada di dalam rumah. Pintu dan jendela sebaiknya ditutup rapat saat kualitas udara luar memburuk, sedangkan celah masuknya asap perlu diminimalkan.
Penggunaan penyaring udara dengan filter dapat menjadi pilihan untuk membantu menjaga kualitas udara di dalam ruangan. Namun, upaya tersebut tetap perlu disertai pembatasan sumber paparan asap dari lingkungan sekitar.
Pretti juga mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan membeli obat batuk ketika mengalami gangguan pernapasan. Konsultasi dengan dokter atau apoteker diperlukan karena pemilihan obat perlu mempertimbangkan kondisi asma dan penyakit penyerta.
“Diharapkan masyarakat lebih waspada terhadap kabut asap karhutla terhadap kesehatan pernapasan, khususnya bagi penderita asma,” tuturnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....