Bukan Malas Baca, Ini Alasan Anak Pilih Video
- 06 Agt 2026 20:30 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Balai Bahasa Sumsel menilai anak-anak masa kini tetap gemar belajar, namun lebih banyak mengakses informasi melalui media digital.
- Kebiasaan mengonsumsi video pendek memengaruhi pola membaca, tetapi buku tetap penting untuk melatih imajinasi, kreativitas, dan berpikir kritis.
- Pengalaman membaca yang menarik perlu dihadirkan agar buku dan teknologi digital dapat saling melengkapi dalam mendukung literasi anak.
RRI.CO.ID, Palembang - Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan menegaskan anak-anak masa kini bukan tidak suka membaca, melainkan cara mereka mengakses informasi telah berubah. Pergeseran pola belajar ini dinilai sejalan dengan pesatnya perkembangan teknologi digital.
Hal tersebut disampaikan Widyabasa Ahli Muda Balai Bahasa Sumsel, Yeni Mastuti, dalam siaran Obrolan Komunitas Pro 4 RRI Palembang, Senin, 27 Juli 2026. Ia mengatakan generasi saat ini lahir dan tumbuh di tengah dunia digital sejak usia dini.
"Anak-anak zaman sekarang bukan tidak mau belajar, tetapi mereka belajar dengan cara yang berbeda," ujar Yeni. Ia menyebut otak anak generasi digital terbiasa menerima rangsangan visual yang sangat cepat sejak kecil.
Menurutnya, kebiasaan mengonsumsi video pendek berdurasi satu menit membuat anak kesulitan membaca artikel panjang secara utuh. Kondisi ini dinilai wajar mengingat pola konsumsi informasi mereka memang berbeda dari generasi sebelumnya.
"Membaca artikel sepanjang lima halaman seringkali terasa berat bagi mereka," katanya. Yeni menegaskan proses membaca tetap memberikan manfaat yang tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh tontonan video.
Yeni menjelaskan fenomena tersebut turut dipengaruhi oleh rancangan aplikasi digital yang didesain untuk menahan perhatian pengguna selama mungkin. Video pendek dibuat semakin menarik dan terus berganti tanpa disadari penggunanya.
"Video dibuat semakin pendek, semakin menarik, dan terus berganti," ujarnya. Ia menyebut kebiasaan tersebut membuat otak anak terbiasa menerima rangsangan cepat dibanding proses membaca yang membutuhkan kesabaran.
Yeni menegaskan membaca buku tetap melatih anak membangun imajinasi, menyusun makna, serta menghubungkan informasi secara mendalam. Proses tersebut dinilai berbeda signifikan dibanding saat anak hanya menonton tayangan visual.
"Buku mengajak pembaca menciptakan gambar di dalam pikiran sendiri," katanya. Yeni menegaskan hal itulah yang melatih kreativitas dan kemampuan berpikir mendalam pada anak.
Balai Bahasa Sumsel berharap masyarakat tidak memandang fenomena ini sebagai penurunan minat baca semata. Yeni menegaskan solusi yang tepat adalah menghadirkan pengalaman membaca yang menarik, bukan mempertentangkan buku dengan teknologi digital.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....