Sales dan Brand Harus Seimbang agar Bisnis Tetap Tumbuh

  • 30 Mei 2026 19:38 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Konflik antara tim sales dan marketing umumnya dipicu perbedaan fokus target jangka pendek dan jangka panjang.
  • Ignatius Untung menyebut sales sebagai “oksigen” perusahaan karena menopang arus kas dan operasional bisnis.
  • Perusahaan dengan brand kuat lebih mampu mempertahankan kepercayaan konsumen ketika muncul isu negatif di pasar.
  • Strategi diskon berkepanjangan dinilai berbahaya karena dapat menekan margin keuntungan perusahaan.
  • Profit dianggap lebih penting dibanding sekadar peningkatan revenue dalam menjaga keberlanjutan bisnis.

RRI.CO.ID, Palembang - Perselisihan antara tim sales dan marketing bisa saja terjadi di sebuah perusahaan. Perbedaan target jangka pendek dan jangka panjang menjadi pemicu utama konflik tersebut.

Pakar Marketing dan Behavioral Science, Ignatius Untung, menilai sales dan brand sebenarnya saling melengkapi. Hal itu disampaikannya dalam tayangan “Market Think” di kanal YouTube Marketeers TV, yang diunggah 22 Mei 2026.

Menurut Ignatius, perusahaan membutuhkan sales untuk menjaga arus kas tetap berjalan. Namun, perusahaan juga membutuhkan brand kuat agar mampu bertahan dalam persaingan bisnis yang ketat.

“Sales itu oksigen. Tanpa sales perusahaan enggak punya pemasukan,” kata Ignatius Untung dalam tayangan tersebut.

Ia menjelaskan, brand berfungsi seperti kebugaran tubuh dalam menjaga daya tahan perusahaan. Brand yang kuat membuat bisnis tetap dipercaya konsumen saat terjadi krisis atau penurunan kepercayaan pasar.

Ignatius menilai perusahaan harus mulai memahami bahwa sales dan brand bukan dua kubu yang saling bertentangan. Menurutnya, brand yang kuat justru membantu tim sales bekerja lebih mudah dan efisien.

“Kalau brandnya bagus, jualannya juga jadi gampang,” katanya.

Ia juga mengingatkan perusahaan agar tidak terjebak strategi diskon berkepanjangan. Menurutnya, perusahaan tanpa brand kuat biasanya terpaksa menurunkan harga demi menjaga penjualan.

Ignatius menilai persoalan harga sebenarnya berkaitan dengan kekuatan brand. Produk dengan brand kuat memiliki keleluasaan menentukan strategi harga dan menjaga margin keuntungan, “Pricing issue adalah brand issue,” katanya.

Dalam video tersebut, Ignatius juga menekankan bahwa keuntungan perusahaan bukan hanya ditentukan besarnya pendapatan. Margin profit dinilai jauh lebih penting untuk menjaga keberlangsungan bisnis.

Ia menyebut banyak perusahaan terlalu fokus mengejar revenue, tetapi mengabaikan profit. Akibatnya, perusahaan tetap kesulitan berkembang meski penjualan meningkat.

Pandangan serupa juga muncul dalam artikel Forbes berjudul The Importance Of An Integrated Approach To Brand Building And Performance Marketing karya David Brown, terbit 24 Maret 2025. Artikel tersebut menyoroti pentingnya keseimbangan antara pembangunan brand dan aktivasi penjualan.

Dalam artikel itu dijelaskan, strategi pemasaran berbasis performa memang mampu menghasilkan penjualan cepat. Namun, perusahaan yang hanya mengejar konversi jangka pendek berisiko kehilangan loyalitas pelanggan dalam jangka panjang.

Riset Les Binet dan Peter Field bahkan menemukan komposisi ideal pemasaran berada pada rasio 60:40. Sebanyak 60 persen strategi diarahkan untuk membangun brand, sedangkan 40 persen digunakan untuk aktivasi penjualan langsung.

Penelitian itu menunjukkan perusahaan yang menggabungkan strategi brand dan performa pemasaran mampu meningkatkan Return on Investment (ROI) lebih besar dibanding hanya fokus pada penjualan sesaat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....