Seni Badut Terancam Punah, Minim Generasi Penerus

  • 15 Sep 2026 10:10 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Seni badut terancam punah akibat minimnya regenerasi seniman baru.
  • Citra badut terdampak karakter horor seperti Pennywise dan Joker yang memicu ketakutan anak-anak.
  • Edukasi dan pelestarian diperlukan untuk menjaga keberlangsungan seni badut di Indonesia.

RRI.CO.ID, Palembang - Seni badut di Indonesia disebut semakin terancam punah akibat minimnya regenerasi seniman baru. Seniman badut sekaligus tim media, Iqbal yang dikenal dengan nama panggung Kak Alviin, mengungkapkan kondisi tersebut berdasarkan pengalamannya di dunia perbadutan.

Hal ini disampaikan Iqbal dalam siaran Obrolan Komunitas Pro 4 RRI Palembang, Kamis, 10 September 2026. Iqbal mengungkapkan jumlah seniman badut di Palembang maupun Indonesia terus berkurang setiap tahunnya.

"Jumlah seniman badut itu semakin lama semakin berkurang," ujar Iqbal. Ia menyebut beberapa badut senior di Pulau Jawa seperti Kota Jakarta dan Bandung, bahkan telah meninggal dunia tanpa sempat mencetak penerus.

Iqbal menjelaskan generasi muda saat ini lebih tertarik menekuni profesi lain seperti trader saham maupun menjadi kreator konten. Kondisi ini dinilai memperparah minimnya minat anak muda terhadap seni badut sebagai profesi maupun hobi.

"Rata-rata kalau saya tanya anak-anak Gen Z, mereka bilang tidak mau jadi badut," katanya. Iqbal menyebut popularitas trading dan dunia influencer dianggap lebih menarik dibanding menekuni seni pertunjukan badut.

Selain minim regenerasi, Iqbal mengungkapkan citra badut turut tercoreng akibat munculnya tokoh badut yang menyeramkan di berbagai film horor. Karakter fiksi seperti Pennywise dan Joker dinilai membuat sebagian masyarakat, khususnya anak-anak, ketakutan terhadap sosok badut.

"Kalau lagi manggung kadang ada anak-anak yang bilang, ini Pennywise katanya, terus mukul saya," ungkap Iqbal. Ia mengaku situasi tersebut kerap membuatnya dilematis merespon kelakuan anak kecil yang ketakutan.

Iqbal menegaskan pihaknya kerap melakukan edukasi langsung kepada anak-anak untuk meluruskan anggapan keliru tersebut. Ia menjelaskan wajah asli di balik riasan badut adalah manusia biasa, bukan sosok monster maupun tokoh jahat dari film.

"Tidak semua badut Pennywise, tidak semua badut Joker, ya adik-adik" tegas Iqbal. Ia berharap edukasi tersebut dapat mengubah persepsi negatif masyarakat terhadap profesi seniman badut secara bertahap.

Iqbal mengaku dulu sempat ada komunitas “Aku Badut Indonesia” yang berupaya membangun komunitas regional di berbagai kota, termasuk Palembang. Namun, rencana tersebut terhenti usai salah satu penggagas komunitas meninggal dunia, sehingga semangat kolektif ikut meredup.

Iqbal berharap semakin banyak pihak yang mau melestarikan seni badut agar tidak benar-benar hilang di masa depan. Ia menegaskan seni badut membutuhkan keterampilan, keberanian, dan proses belajar panjang yang tidak semudah kelihatannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....