Memilih Kreativitas Menulis dengan Pemikiran Sendiri

  • 29 Agt 2026 07:34 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Nanda Gusti Octaviansyah, anggota Palembang Writers Club, menekankan bahwa teknologi AI seharusnya membantu pengolahan informasi, bukan menggantikan proses berpikir manusia dalam penulisan.
  • Penulis profesional mengandalkan kemampuan berpikir sendiri saat menyusun paragraf dan rangkaian kata untuk menghasilkan tulisan berkualitas.
  • Tulisan yang baik tetap memerlukan gagasan orisinal dan sudut pandang personal dari penulis yang tidak dapat digantikan oleh teknologi AI.

RRI.CO.ID, Palembang - Kemunculan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) memberikan kemudahan dalam mengolah informasi dan bahasa. Namun, bagi Nanda Gusti Octaviansyah, teknologi tidak seharusnya menggantikan proses berpikir manusia dalam menghasilkan tulisan.

Nanda yang juga Anggota Palembang Writers Club (PWC) mengatakan dirinya cenderung mengandalkan kemampuan berpikir sendiri ketika menyusun paragraf maupun rangkaian kata. Ia menilai tulisan yang baik tetap membutuhkan gagasan dan sudut pandang personal dari penulis.

“Kalau untuk paragraf atau rangkaian kata, itu harus dari ide dan pemikiran sendiri,” ujarnya.

Nanda mengaku lebih memilih mencari referensi secara manual, termasuk ketika membutuhkan sinonim atau kata tertentu. Menurutnya, AI baru dapat dimanfaatkan ketika penulis benar-benar mengalami kebuntuan.

“Pengunaan AI baru dapat dimanfaatkan ketika penulis benar-benar mengalami kebuntuan. Hal itu pun harus dihindarkan, kalau bisa diusahakan dengan pemikiran dan ide kreatif sendiri,” jelasnya.

Nanda sendiri mulai mengenal kegiatan menulis sejak duduk di bangku kuliah. Pada awalnya, aktivitas tersebut berkaitan dengan kebutuhan akademik, seperti menuliskan kembali berbagai hal yang diperolehnya dari buku.

Seiring waktu, ia merasa membutuhkan bentuk tulisan yang lebih bebas. Ia kemudian mulai mencoba menulis nonfiksi dan cerita yang berkaitan dengan kehidupan manusia.

Tulisan Nanda banyak mengeksplorasi persoalan kehidupan, kritik sosial dan refleksi diri. Ia berusaha membuat cerita yang dapat dibaca secara umum tanpa secara langsung menyebut nama orang maupun tempat tertentu.

“Pengalaman tersebut membuat saya semakin menikmati proses menulis. Dengan adanya komunitas, sebagai ruang penting untuk mendapatkan kritik dan masukan,” katanya.

Di PWC, anggota dapat mengirimkan tulisan untuk dievaluasi bersama. Kritik yang diberikan diarahkan tetap konstruktif dan tidak bersifat menyerang pribadi.

Tulisan dapat dibagikan melalui WhatsApp, perangkat digital maupun dalam bentuk cetak. Dengan cara tersebut, anggota bisa saling membaca sekaligus memberikan saran terhadap karya masing-masing.

“Saya berharap proses tersebut dapat membantu anggota PWC menemukan gaya menulis masing-masing sekaligus meningkatkan kemampuan mereka tanpa kehilangan kreativitas pribadi,” Pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....