Kisah Nawawi, 35 Tahun Menjahit Asa di Bawah Jembatan Ampera

  • 03 Agt 2026 07:15 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Jasa jahit lapangan Nawawi bertahan melayani masyarakat di kawasan bawah Jembatan Ampera, Pasar 16 Ilir, Palembang, menawarkan solusi praktis bagi pembeli yang ingin memperbaiki pakaian setelah berbelanja.
  • Nawawi menyediakan layanan lengkap permak pakaian termasuk mengecilkan dan membesarkan ukuran, mengganti resleting, serta mengubah model pakaian dengan tarif terjangkau mulai dari Rp10.000.
  • Keberadaan lapak jahit tradisional ini menunjukkan ketahanan usaha informal di tengah perkembangan industri fesyen modern dan jasa penjahit modern.

RRI.CO.ID, Palembang - Di tengah gempuran tren fesyen modern dan kehadiran gerai penjahit kekinian, deru mesin jahit tua milik Nawawi (71) tak pernah berhenti berputar. Dari sudut lapak sederhananya di bawah megahnya Jembatan Ampera, kawasan Pasar 16 Ilir, Palembang, jemari senjanya masih terampil menyelamatkan ribuan pakaian.

Lapak Nawawi bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan tempat bergantung para pemburu pakaian bekas (thrift/thrifting) atau yang akrab disapa warga lokal sebagai baju "BJ". Posisinya yang sangat strategis membuat para pembeli yang baru saja memborong pakaian bisa langsung mengoreksi ukuran baju mereka tanpa perlu menunggu hari.

Mulai dari mengecilkan, membesarkan ukuran, mengganti resleting rusak, hingga merombak total model pakaian—baik berbahan denim tebal maupun kain biasa—semua mampu diselesaikannya. Harganya pun sangat bersahabat, dipatok mulai dari Rp10.000 tergantung tingkat kerumitan.

"Saya sudah menjalankan usaha menjahit ini hampir 35 tahun. Saya memilih mangkal di sini karena dekat dengan penjual BJ. Biasanya pembeli yang bajunya kebesaran atau ada sedikit robek langsung datang ke sini untuk diperbaiki," kata Nawawi saat ditemui pada Minggu, 2 Agustus 2026.

Dahulu, Nawawi harus menjajakan jasanya secara keliling dengan memikul beban berat mesin jahit. Namun, faktor usia memaksanya untuk menetap. Kini setiap pagi, ia mendorong gerobak berisi mesin jahit kesayangannya menuju bawah Jembatan Ampera, beroperasi mulai pukul 08.00 WIB hingga 17.30 WIB.

Pendapatannya memang tak menentu. Di hari-hari biasa, uang Rp50.000 sudah cukup disyukurinya. Namun saat akhir pekan atau pasar sedang ramai, kantongnya bisa terisi Rp100.000 atau lebih. Tak berhenti di situ, demi menyambung hidup, Nawawi bahkan memanfaatkan Sabtu malam untuk berjualan pakaian bekas di Pasar Cinde.

Bagi Nawawi, jasa permak pakaian lapangan akan selalu menemukan pasarnya, terutama di pusat perbelanjaan yang riuh seperti Pasar 16 Ilir. Namun di balik ketangguhannya, ia menitipkan harapan agar nasib para pekerja informal lansia seperti dirinya tak luput dari perhatian.

"Semoga usaha ini tetap ramai. Saya juga berharap pemerintah memberikan perhatian kepada pelaku UMKM lanjut usia seperti kami agar tetap bisa mandiri dan menjalankan usaha," pungkasnya.

Laporan: M. Wirya Gunawan, Mahasiswa magang Jurusan Ilmu Komunikasi UIN Raden Fatah Palembang

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....