Jaga Keamanan Pangan, Pelaku Kuliner Perlu Terapkan HACCP

  • 09 Sep 2026 08:45 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Keamanan pangan merupakan faktor penting yang menentukan kepercayaan konsumen terhadap usaha kuliner.
  • Pelaku usaha kuliner harus memastikan setiap produk memenuhi aspek kebersihan dari pemilihan bahan hingga penyajian.
  • Zuliansyah, pemilik D'teras Azka, menerapkan standar keamanan pangan sebagai chef profesional dan dosen di Politeknik Pariwisata Palembang.

RRI.CO.ID, Palembang - Keamanan pangan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan kepercayaan konsumen terhadap sebuah usaha kuliner. Karena itu, pelaku usaha perlu memastikan setiap produk yang dihasilkan memenuhi aspek kebersihan sejak pemilihan bahan hingga makanan disajikan.

Hal tersebut juga diterapkan Zuliansyah, pemilik D’teras Azka di kawasan Villa Cahaya Tiga, Lebak Murni, Perumnas Sako Kenten, Palembang. Selain menjalankan usaha kuliner, Zuliansyah berprofesi sebagai chef dan dosen di Politeknik Pariwisata Palembang.

Zuliansyah memulai usaha tersebut pada 2019, tetapi aktivitas penjualan sempat terhenti akibat pandemi Covid-19. Setelah kembali beroperasi, D’teras Azka melayani konsumen setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 21.00 WIB.

Berbagai menu ditawarkan, mulai dari mi ayam, risol mayo, cireng, nasi goreng, kwetiau hingga sejumlah varian mi. Di tengah kegiatan produksi tersebut, penerapan standar keamanan pangan dinilai penting untuk mencegah berbagai risiko yang dapat muncul selama pengolahan makanan.

Zuliansyah menjelaskan, salah satu sistem yang dapat diterapkan pelaku usaha adalah Hazard Analysis and Critical Control Point atau HACCP. Sistem tersebut membantu pelaku usaha mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengendalikan potensi bahaya selama proses pengolahan pangan.

“Bahaya pada makanan ada bahaya biologis, fisik dan kimia, bahaya biologis disebabkan oleh bahan makanan tersebut, misalnya pada ayam ada bakteri yang sangat berbahaya namanya salmonella,” ujarnya saat berbincang dalam program Teras UMKM Lokak Kito RRI, Kamis, 3 September 2026.

Menurutnya, risiko biologis perlu dikendalikan agar makanan yang dihasilkan aman dikonsumsi masyarakat. Selain bakteri, risiko keamanan pangan juga dapat berasal dari bahan kimia maupun benda asing yang masuk selama proses pengolahan.

Risiko kimia, kata Zuliansyah, dapat berkaitan dengan residu pestisida pada bahan pangan sehingga proses pencucian harus dilakukan secara tepat. Sementara risiko fisik dapat berupa rambut, serpihan kayu, atau benda lain yang tercampur dalam makanan dan berpotensi mengganggu keamanan produk.

Pengendalian risiko juga harus dilakukan melalui proses memasak yang tepat, terutama untuk bahan pangan seperti ayam dan daging. “Untuk menekan bakteri salmonella yang ada di ayam atau daging pada industri kuliner, paling utama cara memasaknya harus benar dengan suhu mencapai 75 derajat Celsius dan diukur menggunakan alat sesuai SOP,” tuturnya.

Zuliansyah menilai kebersihan produk merupakan fondasi penting dalam membangun kepercayaan konsumen terhadap usaha kuliner. Ia mengajak pelaku usaha menerapkan HACCP serta terus berinovasi agar produk yang ditawarkan tidak hanya lezat, tetapi juga sehat dan aman dikonsumsi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....