Gorengan Rp1.000 Tetap Laris di Tengah Kenaikan Harga Bahan Baku

  • 21 Jul 2026 06:38 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Pedagang gorengan di Palembang membukukan omzet sekitar Rp20 juta per bulan dengan penjualan yang tetap stabil.
  • Meskipun dihadapkan pada kenaikan harga bahan baku, penjualan gorengan Ehon tetap stabil karena masih menjadi jajanan favorit masyarakat.
  • Gorengan diminati berbagai kalangan karena harganya terjangkau, memiliki banyak pilihan, dan telah menjadi bagian dari kuliner khas Indonesia yang akrab di lidah masyarakat.

RRI.CO.ID, Palembang - Usaha gorengan skala kaki lima di Kota Palembang masih menunjukkan daya tahan di tengah kenaikan harga bahan baku. Seorang pedagang di Jalan Sunarna, Kecamatan Sematang Borang, mampu membukukan omzet sekitar Rp20 juta per bulan berkat penjualan yang tetap stabil.

Pedagang bernama Ehon (34) telah menjalankan usaha tersebut selama hampir tiga tahun. Gorengan yang dijual tetap diminati masyarakat karena harganya terjangkau dan menjadi pilihan makanan sehari-hari.

Saat ditemui Sabtu, 18 Juli 2026, Ehon mengatakan pelanggan berasal dari berbagai wilayah di Kota Palembang. Pembelinya juga berasal dari berbagai kelompok usia, mulai anak-anak hingga orang dewasa.

"Gorengan masih banyak dicari karena harganya terjangkau. Jenisnya juga banyak dan sudah jadi makanan yang akrab dengan masyarakat," ujarnya.

Setiap hari Ehon menyediakan berbagai jenis gorengan, seperti bakwan, tahu isi, molen, tempe goreng, pempek nasi, oncom, ubi madu, dan cireng. Bakwan serta tahu isi menjadi menu yang paling banyak dibeli pelanggan.

Seluruh gorengan dijual dengan harga Rp1.000 per buah. Dalam kondisi ramai, penjualan mencapai sekitar 2.000 hingga 3.000 buah per hari, sedangkan pada hari biasa berkisar 700 hingga 1.000 buah.

Aktivitas berjualan dimulai sejak pukul 06.00 WIB hingga 21.00 WIB. Penjualan umumnya meningkat pada pagi dan sore hari, sementara akhir pekan menjadi periode dengan jumlah pembeli tertinggi.

Meski penjualan tetap stabil, Ehon mengaku kenaikan harga bahan baku menjadi tantangan terbesar dalam menjalankan usahanya. Minyak goreng dan tepung merupakan komoditas yang paling sering mengalami kenaikan sehingga meningkatkan biaya produksi.

"Kenaikan harga minyak memang berpengaruh terhadap usaha. Tapi mau bagaimana lagi, yang penting usaha tetap berjalan dan lancar," katanya.

Ehon berharap harga bahan baku kembali stabil agar biaya produksi dapat lebih terkendali. Ia juga ingin usahanya terus berkembang dan mampu mempertahankan kepercayaan pelanggan di tengah persaingan usaha kuliner.

Laporan M. Wirya Gunawan, Mahasiswa magang Jurusan Ilmu Komunikasi UIN Raden Fatah Palembang.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....