Kreatif! Warung Istimewa Tepi Jalan Jual Nasi Padang Pakai Pickup
- 18 Jul 2026 19:50 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Warung nasi Padang dengan konsep mobil pickup pickup kini hadir di kawasan Lemabang, Palembang, memberikan pengalaman berbelanja yang unik dan berbeda.
- Konsep inovatif ini terinspirasi dari melihat mobil penjualan donat menggunakan truk keliling yang dilakukan oleh pemilik Gina.
- Pemilik Gina beradaptasi dengan ide serupa untuk membuka usaha nasi Padang bersama rekannya dengan pendekatan bisnis yang lebih mobile dan menjangkau lebih banyak pelanggan.
RRI.CO. ID, Palembang - Warung nasi Padang berkonsep mobil pickup hadir di kawasan Lemabang, Palembang, menarik perhatian masyarakat. Usaha tersebut menawarkan pengalaman membeli nasi Padang dengan konsep berbeda.
Konsep tersebut lahir setelah pemiliknya Gina melihat mobil penjualan donat menggunakan truk keliling. Ia kemudian mengadaptasi ide serupa untuk usahanya dengan memberi nama Istimewa Tepi Jalan bersama rekannya.
Gina mengatakan konsep itu dipilih karena belum ada di kawasan Lemabang. Ia berharap keunikan tersebut mampu menjadi daya tarik bagi pelanggan baru.
"Awalnya lihat mobil JCO yang jualan pakai truk. Pengen buat konsep seperti itu, dan kami punya usaha nasi Padang, jadi kami coba konsep pickup untuk berjualan," kata Gina, Jumat, 17 Juli 2026.
Proses memasak dimulai setiap hari pukul 04.00 hingga 05.00 WIB di dapur kawasan KM 12. Seluruh menu kemudian dibawa ke lokasi jualan sekitar pukul 10.00 WIB menggunakan mobil pickup.
Sebanyak 20 hingga 25 jenis lauk tersedia setiap hari untuk pelanggan. Menu favorit meliputi ayam bakar, tunjang, ayam krispi, dan perkedel dengan harga Rp11 ribu hingga Rp13 ribu.
"Yang paling sering habis biasanya ayam bakar, tunjang, ayam krispi, sama perkedel. Kalau harga mulai Rp11 ribu sampai Rp13 ribu," ujarnya.
Menurut Gina, kualitas makanan menjadi perhatian utama selama proses penjualan berlangsung. Seluruh hidangan disajikan prasmanan dan ditutup tirai agar tetap higienis serta terlindung dari debu.
Warung tersebut baru beroperasi sekitar satu pekan sehingga belum banyak diketahui masyarakat. Kondisi itu menjadi tantangan utama dalam meningkatkan jumlah pelanggan setiap hari.
Apabila masih tersisa, makanan akan dikemas kembali dan dikirim ke dapur pusat. Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi makanan terbuang sekaligus menjaga kualitas menu.
Gina menilai persaingan usaha kuliner menuntut pelaku bisnis memiliki ciri khas dan pelayanan konsisten. Ia menargetkan penjualan mencapai 200 porsi per hari serta mengajak anak muda berani berwirausaha.
"Kami ingin usaha ini terus berkembang dan bisa menjual sekitar 200 porsi setiap hari. Buat anak muda yang ingin mulai usaha kuliner, jangan takut mencoba. Yang penting punya semangat, terus konsisten, dan berani membuat sesuatu yang berbeda," tutupnya.
Laporan Aditya Dwi Permana mahasiswa magang Ilmu Komunikasi UIN Raden Fatah Palembang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....