Branding Tidak Lagi Berbicara Tentang Produk Saja
- 24 Jan 2026 17:58 WIB
- Palembang
RRI.CO.ID, Palembang – Penerapan branding tidak lagi berbicara tentang produk. Branding menjual value, makna, persepsi dan positioning di benak konsumen.
Konsep 4P adalah kerangka dasar strategi pemasaran yang terdiri dari Product (Produk), Price (Harga), Place (Tempat/Distribusi), dan Promotion (Promosi). Keempatnya yang saling terkait untuk memenuhi kebutuhan konsumen dan mencapai tujuan bisnis, pertama kali diperkenalkan oleh E. Jerome McCarthy.
Keempat elemen ini bekerja sama untuk menciptakan proposisi nilai yang menarik bagi target pasar, memastikan produk tersedia, dan mengkomunikasikannya secara efektif. Konsep 4P hanya membahas aspek produk. Sementara branding menggali nilai yang membedakan sebuah usaha.
“Langkah awal branding adalah menentukan brand identity, Identitas dimulai dari tujuan dan manfaat bagi konsumen. Brand atau merek harus menjawab masalah yang dihadapi konsumen yang dapat dirumuskan visi, misi, dan nilai utama usaha,” ujar Ari dalam obrolan Teras UMKM dengan Pro 4 RRI Palembang, Minggu, 13 Januari 2026.
Setelah value atau nilai usaha ditentukan, pelaku usaha menetapkan positioning. Positioning menentukan citra dan pembeda di pasar.
“Logo bukan tahap awal branding. Logo berada pada tahapan ke-12 dari 15 proses branding,” jelas Ari Derta sebagai tambahan info.
Ia merujuk metode branding dari pakar Subiakto yakni menekankan perumusan tujuan sebelum visual.
“Jika brand sudah ada, pelaku usaha bisa memilih rebranding. Alternatif lainnya melanjutkan branding dengan menambah edit value,” tambahnya.
Nilai tambah dapat berupa pesan atau tagline lebih spesifik. Langkah ini memperjelas karakter dan keunikan produk.
Ari mencontohkan produk kuliner yang memiliki banyak pesaing. Keunikan rasa, nama, dan kemasan menentukan pembeda.
Kemasan dinilai sebagai bentuk komunikasi brand. Desain kemasan harus menarik dan selaras identitas.
“Nama produk harus mengandung makna dan persepsi. Nama kuat membantu menciptakan call to action atau mengajak konsumen untuk bertindak,” jelasnya kembali.
Brand besar menjaga konsistensi identitas outlet. Desain gerai dibuat seragam di setiap cabang.
Konsistensi identitas memudahkan konsumen mengenali brand. Hal ini memperkuat kepercayaan dan loyalitas pasar. Ari menekankan riset perilaku konsumen bagi UMKM.
Produk sebaiknya lahir dari kebutuhan nyata konsumen dan positioning dibangun dari solusi atas masalah konsumen. Pendekatan ini dapat mendorong UMKM naik kelas dan berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....