BPS: Ekonomi Tumbuh 5,2 Persen, Kemiskinan Sumsel Turun 28,3 Ribu Orang

  • 06 Agt 2026 19:35 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Angka kemiskinan Sumatera Selatan turun dari 9,85 persen (September 2025) menjadi 9,50 persen (Maret 2026), menunjukkan perbaikan kondisi ekonomi dalam enam bulan.
  • Jumlah penduduk miskin berkurang sebanyak 28,3 ribu orang, dari 898,24 ribu orang menjadi 869,97 ribu orang.
  • Peningkatan aktivitas ekonomi dan konsumsi rumah tangga menjadi faktor utama penurunan kemiskinan, mencerminkan daya beli masyarakat yang membaik.

RRI.CO.ID, Palembang - Angka kemiskinan di Sumatera Selatan pada Maret 2026 tercatat turun menjadi 9,50 persen dari sebelumnya 9,85 persen pada September 2025. Secara jumlah penduduk, angka kemiskinan berkurang dari 898,24 ribu orang menjadi 869,97 ribu orang atau turun sebanyak 28,3 ribu orang dalam enam bulan terakhir.

Kepala BPS Sumatera Selatan, Moh. Wahyu Yulianto mengatakan penurunan angka kemiskinan tersebut dipengaruhi meningkatnya aktivitas ekonomi dan konsumsi rumah tangga. Kondisi ini menunjukkan daya beli masyarakat mulai membaik seiring pertumbuhan ekonomi daerah yang tetap terjaga.

Kepala BPS Sumatera Selatan, Moh. Wahyu Yulianto saat diwawancarai media. (Foto: RRI/Kgs M Irpan).

Pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan yang mencapai 5,2 persen pada periode sebelumnya menjadi salah satu faktor utama pendorong penurunan kemiskinan. Tingginya produksi pertanian, kenaikan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) serta momentum Ramadan dan Idulfitri turut meningkatkan pendapatan masyarakat.

"Selain itu, meningkatnya konsumsi rumah tangga dan bertambahnya pendapatan masyarakat dari berbagai aktivitas ekonomi, termasuk pencairan gaji 13 aparatur sipil negara (ASN), ikut memperkuat daya beli masyarakat selama periode tersebut," ujar Wahyu. Rabu, 5 Agustus 2026.

Menurut Wahyu,BPS Sumsel mencatat garis kemiskinan di Sumatera Selatan mengalami kenaikan sebesar 3,15 persen selama September 2025 hingga Maret 2026. Nilainya meningkat dari Rp609.044 per kapita per bulan menjadi Rp628.228 per kapita per bulan.

Komponen makanan masih menjadi penyumbang terbesar terhadap garis kemiskinan. Pada Maret 2026, komoditas makanan menyumbang 75,08 persen terhadap garis kemiskinan, meskipun kontribusinya sedikit menurun dibandingkan September 2025.

Dengan rata-rata jumlah anggota rumah tangga sebanyak empat hingga lima orang, sebuah rumah tangga dikategorikan miskin apabila memiliki pengeluaran atau pendapatan di bawah kisaran Rp2,9 juta hingga Rp3 juta per bulan.

BPS mencatat komoditas yang paling memengaruhi pengeluaran rumah tangga miskin didominasi bahan pangan, terutama beras, telur dan mi instan. Karena itu, stabilitas harga beras dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga daya beli masyarakat berpenghasilan rendah.

Selain bahan pangan, rokok kretek masih menjadi salah satu komponen pengeluaran terbesar rumah tangga miskin. BPS menilai pengeluaran untuk rokok sebaiknya dialihkan pada kebutuhan pangan yang lebih bergizi sehingga dapat meningkatkan kualitas konsumsi dan kesejahteraan keluarga.

Wahyu menegaskan bahwa pengendalian harga kebutuhan pokok, khususnya beras, serta upaya meningkatkan pendapatan masyarakat menjadi faktor penting untuk menjaga tren penurunan angka kemiskinan di Sumatera Selatan pada periode mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....