BPS Sumsel Waspadai Kenaikan Harga Beras Meski Inflasi Terkendali

  • 05 Agt 2026 14:25 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • BPS Sumatera Selatan memandang kenaikan harga beras sebagai komoditas yang perlu diwaspadai meskipun inflasi daerah masih terkendali.
  • Peningkatan harga beras dipicu oleh naiknya harga gabah di tingkat petani sebagai dampak penyesuaian Harga Pembelian Pemerintah (HPP).
  • Dampak kenaikan harga beras sudah mulai dirasakan hingga ke tingkat distributor dan pasar tradisional di Sumatera Selatan.

RRI.CO.ID, Palembang - Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Selatan mewaspadai kenaikan harga beras sebagai komoditas pangan strategis meskipun inflasi daerah masih berada pada tingkat yang terkendali. Beras dinilai perlu mendapat perhatian karena menjadi kebutuhan pokok yang dikonsumsi hampir seluruh rumah tangga.

Kepala BPS Sumatera Selatan, Moh. Wahyu Yulianto, mengatakan kenaikan harga beras dipengaruhi meningkatnya harga gabah di tingkat petani setelah penyesuaian Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Dampak kenaikan tersebut mulai dirasakan hingga tingkat distributor dan pasar tradisional.

"Meski menguntungkan produsen, kenaikan harga beras tidak boleh berlangsung terlalu lama karena berpotensi mengurangi daya beli masyarakat. Beras merupakan komoditas utama yang dikonsumsi hampir seluruh rumah tangga," ujar Wahyu, Senin, 3 Agustus 2026.

Menurut Wahyu, kenaikan harga beras memberikan dampak positif bagi petani karena mendorong peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP), terutama pada subsektor tanaman pangan. Namun, pemerintah tetap perlu menjaga keseimbangan agar kenaikan harga tidak membebani masyarakat sebagai konsumen.

Di Kota Palembang, komoditas yang memberikan andil terhadap inflasi pada Juli 2026 meliputi bensin sebesar 0,08 persen, nasi dengan lauk 0,02 persen, ketimun 0,02 persen, sawi putih 0,01 persen, dan beras 0,01 persen.

Sementara itu, harga sejumlah komoditas hortikultura, seperti cabai dan bawang, justru mengalami penurunan karena pasokan yang melimpah. Kondisi tersebut turut menahan laju inflasi sehingga Sumatera Selatan mencatat deflasi sebesar 0,24 persen pada Juli 2026.

Memasuki Agustus 2026, BPS akan terus memantau perkembangan harga pangan, terutama apabila terjadi perubahan cuaca yang berpotensi memengaruhi produksi hortikultura maupun kelancaran distribusi komoditas. Pemantauan tersebut dilakukan untuk mendukung stabilitas harga pangan di daerah.

Wahyu berharap keseimbangan harga antara produsen dan konsumen tetap terjaga sehingga petani memperoleh keuntungan yang layak tanpa mengurangi daya beli masyarakat. Menurutnya, stabilitas harga pangan menjadi faktor penting dalam menjaga inflasi tetap terkendali dan mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....