Hadapi Musim Kemarau, Petambak Udang Windu Atur Strategi

  • 12 Agt 2026 09:25 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Musim kemarau di Desa Timbul Jaya Kecamatan Muara Sugihan Banyuasin menyebabkan perubahan kualitas air yang mengganggu budidaya udang windu karena air tambak menjadi lebih asin atau pahit.
  • Petambak harus mengatur pengairan dan menekan biaya produksi untuk mempertahankan hasil panen di tengah kondisi cuaca yang tidak mendukung.
  • Budidaya ikan menunjukkan ketahanan yang lebih baik terhadap perubahan musim dibandingkan dengan budidaya udang windu yang sangat sensitif terhadap fluktuasi kualitas air.

RRI.CO.ID, Banyuasin - Musim kemarau di Desa Timbul Jaya, Kecamatan Muara Sugihan, Kabupaten Banyuasin, membuat kondisi tambak kurang mendukung untuk budidaya udang windu di tengah perubahan kualitas air. Kondisi tersebut memaksa petambak mengatur pengairan dan menekan biaya produksi agar tetap memperoleh hasil panen.

Perubahan musim membuat air tambak menjadi lebih asin atau pahit sehingga mengganggu pertumbuhan udang. Kondisi itu berbeda dengan budidaya ikan yang cenderung tidak terdampak perubahan musim.

Petambak udang windu, Toat, mengatakan, perubahan musim sangat berpengaruh terhadap keberhasilan budidaya udang. Menurutnya, perubahan kualitas air dapat mengganggu pertumbuhan udang.

Untuk menjaga kualitas air, ia memanfaatkan pasang surut laut yang berlangsung setiap hari. Air tambak diatur menggunakan pipa paralon berdiameter 10 hingga 12 inci.

“Biar kualitas airnya bagus, kami manfaatke pasang surut laut tiap hari. Terus air tambak diatur lewat paralon ukuran 10 sampai 12 inci” ujarnya, Sabtu, 8 Agustus 2026.

Perawatan tambak juga dilakukan dengan memberikan kapur sebagai penetral dan pupuk SP-36. Langkah tersebut bertujuan menyuburkan tanah dasar agar lumut sebagai pakan alami udang tetap tumbuh.

Selain itu, biaya perawatan menjadi salah satu kendala utama selama musim kemarau. Kondisi ini semakin berat karena tingginya harga pakan pelet pabrikan yang membuat biaya budidaya udang meningkat.

“Tambaknya kami rawat dengan dikasih kapur samo pupuk SP-36 biar lumut tumbuh. Tapi pas musim kemarau, biaya perawatan lebih besak, apolagi harga pakan pelet pabrikan mahal,” ujarnya.

Untuk mengurangi beban biaya, Toat mencampurkan gilingan jagung dengan pelet sebagai pakan udang. Menurutnya, cara tersebut cukup membantu menekan biaya tanpa mengurangi kualitas pertumbuhan udang.

Selain kekeringan, gelombang pasang surut besar juga mengancam tanggul penangkis tambak. Biasanya, diantisipasi dengan panen diawal untuk mengurangi risiko gagal panen dan segera membersihkan tambak.

Sementara itu, salah satu pengepul udang, Ujang, mengatakan, kualitas udang windu hasil tambak di Desa Timbul Jaya masih tergolong baik meski memasuki musim kemarau. Kondisi tersebut terlihat dari ukuran dan kondisi fisik udang yang masih layak untuk dipasarkan.

Menurutnya, perubahan musim dan kualitas air belum terlalu memengaruhi mutu udang yang dipanen petambak. Udang hasil panen tetap memiliki kualitas yang baik sehingga masih diminati dan dapat dipasarkan seperti biasanya.

“Walaupun sekarang musim kemarau, kualitas udang dari tambak sini masih bagus dan ukuran udangnya jugo cukup baik. Udangnyo masih segar, jadi tetap banyak yang minat dan biso dipasarkan seperti biaso,” ujarnya.

Laporan Ayu Siti Fatimah mahasiswa magang UIN Raden Fatah Palembang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....