Mengapa Hari Jadi Palembang Diperingati Setiap 17 Juni?

  • 31 Agt 2026 05:25 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Hari jadi Kota Palembang ditetapkan setiap 17 Juni berdasarkan kajian tim yang dibentuk pada 1971.
  • Tim memilih Prasasti Kedukan Bukit sebagai dasar sejarah hari jadi Palembang dari empat alternatif peristiwa.
  • Terdapat perdebatan mengenai konversi 605 Saka ke tahun Masehi dan penetapan 17 Juni sebagai tanggal hari jadi.

RRI.CO.ID, Palembang - Setiap 17 Juni, Kota Palembang memperingati hari jadinya. Pada 2026, usia Palembang ditetapkan mencapai 1.343 tahun sekaligus mengukuhkan kota ini sebagai salah satu kota tertua di Nusantara.

Namun, mengapa 17 Juni dipilih sebagai hari lahir Palembang?

Pemerhati Sejarah Sumatera Selatan, Hidayatul Fikri atau yang akrab disapa Mang Dayat, mengatakan penetapan hari jadi Palembang berawal pada masa pemerintahan Wali Kota Palembang Cek Yan.

Kepada RRI, Sabtu, 29 Agustus 2026, Mang Dayat menjelaskan pemerintah kota saat itu membentuk tim khusus pada 5 Oktober 1971 untuk mengkaji dan menentukan dasar sejarah hari jadi Palembang. Tim tersebut mulai bekerja efektif pada 21 Januari 1972.

Tim diketuai Tengku Sabalubis yang saat itu menjabat Kepala Penasehat Harian Kota Palembang. Kasim Sulaiman yang menjabat Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan ditunjuk sebagai sekretaris.

Anggota tim di antaranya Raden Muhammad Akib dari bidang arsitektur, Anwar Arivai, Taufik Rahman, dan Asis Somad.

“Pada penentuan hari lahir Kota Palembang dibentuklah tim khusus yang diketuai oleh Tengku Sabalubis dan sekretaris Kasim Sulaiman. Kemudian anggota tim terdiri dari Raden Muhammad Akib sebagai perwakilan dari bidang arsitektur, Anwar Arivai, Taufik Rahman dan Asis Somad,” ungkap Mang Dayat.

Dalam kajiannya, tim menemukan empat peristiwa yang dianggap memiliki dasar sejarah untuk dijadikan pijakan hari jadi Palembang.

Pertama, merujuk pada Prasasti Kedukan Bukit. Kedua, kedatangan Ariodillah ke Palembang. Ketiga, kemenangan perang Palembang melawan Belanda pada 1819. Keempat, pembentukan Gementee Palembang pada 18 April 1906.

Dari empat pilihan tersebut, tim akhirnya menetapkan Prasasti Kedukan Bukit sebagai dasar hari jadi Palembang.

Prasasti yang ditemukan di kawasan Kedukan Bukit itu dipandang sebagai salah satu bukti tertulis paling awal mengenai keberadaan Palembang. Namun, keputusan tersebut hingga kini menyisakan perdebatan, terutama mengenai tafsir angka tahun dan tanggal yang tercantum dalam prasasti.

Menurut Mang Dayat, sejumlah kajian sejarah menafsirkan angka 605 Saka dalam Prasasti Kedukan Bukit setara dengan 682 Masehi. Jika tafsir tersebut digunakan, terdapat perbedaan satu tahun dengan penetapan resmi pemerintah.

“Secara historis banyak kajian yang mengacu pada tahun 605 Saka setara dengan tahun 682 Masehi, tapi ditetapkan 683 Masehi. Akibatnya Palembang di tahun 2026 ini berusia 1.343 tahun, harusnya usia Palembang 1.344 tahun,” ujar Mang Dayat.

Kontroversi lainnya menyangkut tanggal. Menurut dia, penafsiran terhadap isi prasasti lebih mendekati tanggal 16 Juni, sementara pemerintah kemudian menetapkan 17 Juni sebagai hari jadi Kota Palembang.

Beredar pula cerita bahwa tim penetapan hari jadi sempat berkonsultasi dengan sejarawan nasional Muhammad Yamin. Dalam cerita tersebut, perubahan tanggal dari 16 menjadi 17 Juni dikaitkan dengan pertimbangan simbolis agar sejalan dengan semangat kemerdekaan 17 Agustus dan angka 17 yang juga dikaitkan dengan jumlah rakaat salat wajib dalam sehari semalam.

Namun, Mang Dayat menegaskan cerita tersebut masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

“Cerita itu masih membutuhkan penelitian dan pembuktian,” katanya.

Terlepas dari perdebatan mengenai konversi tahun maupun tanggal, pemerintah kemudian menetapkan 17 Juni 683 Masehi sebagai hari jadi Kota Palembang.

Penetapan tersebut menjadi dasar peringatan hari jadi Palembang hingga saat ini dan turut memperkuat narasi Palembang sebagai salah satu kota tertua di Indonesia.

Di balik angka 1.343 tahun yang diperingati pada 2026, tersimpan proses panjang penelusuran sejarah yang tidak sepenuhnya bebas dari perdebatan. Justru dari perbedaan tafsir itulah, sejarah Palembang terus terbuka untuk dikaji kembali berdasarkan bukti dan penelitian sejarah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....