Balai Bahasa Sumsel Dorong Penulis Pemula Lestarikan Bahasa Daerah

  • 22 Jul 2026 20:20 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Balai Bahasa Sumatera Selatan secara konsisten menyelenggarakan Sayembara Penulisan Cerita Anak Dwibahasa setiap tahun untuk mengembangkan penulis cerita anak yang berkualitas.
  • Cerita anak memiliki peran dual sebagai media hiburan dan pembentukan karakter dengan tokoh-tokoh yang memberikan teladan positif bagi pembaca muda.
  • Program ini bertujuan melestarikan bahasa daerah sambil menghadirkan karya-karya edukatif yang relevan dengan kebutuhan perkembangan anak-anak.

RRI.CO.ID, Palembang - Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan terus mendorong lahirnya penulis cerita anak yang mampu menghadirkan karya edukatif sekaligus melestarikan bahasa daerah melalui Sayembara Penulisan Cerita Anak Dwibahasa yang digelar setiap tahun.

Koordinator kegiatan, Mulawarman, mengatakan cerita anak tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi media pembentukan karakter. Menurutnya, anak-anak memiliki kecenderungan meniru tokoh yang mereka kagumi sehingga penulis harus menghadirkan tokoh yang memberi teladan positif.

"Menulis cerita anak harus benar-benar ramah anak, mengandung nilai edukasi, dan mampu membentuk karakter," ujarnya dalam obrolan komunitas di Pro 4 RRI Palembang, Selasa, 7 juli 2026.

Ia menjelaskan, tokoh dalam cerita anak harus dipilih secara cermat karena akan menjadi contoh bagi pembaca. Oleh sebab itu, penulisan cerita anak berbeda dengan penulisan novel atau cerita untuk orang dewasa.

“Tidak semua penulis novel mampu menulis cerita anak. Sebab, menulis cerita anak berarti menulis untuk anak, bukan sekadar menulis tentang anak, sehingga memerlukan pendekatan bahasa dan psikologi yang berbeda,” jelasnya.

Balai Bahasa Provinsi Sumsel juga membuka kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat untuk mengikuti sayembara. Selama empat tahun penyelenggaraan, mayoritas pemenang justru berasal dari kalangan penulis pemula.

"Ini menunjukkan Sumatera Selatan memiliki banyak calon penulis berbakat yang hanya membutuhkan ruang untuk berkarya," katanya.

Sebagai bentuk pelestarian bahasa daerah, setiap naskah wajib ditulis dalam dua bahasa, yakni bahasa Indonesia dan salah satu bahasa daerah Sumatera Selatan. Bahasa yang digunakan pun beragam, mulai dari Melayu Palembang, Ogan, Musi, hingga bahasa daerah lainnya di Sumsel.

Mulawarman yang juga Penerjemah Ahli Madya menyebut informasi sayembara biasanya diumumkan pada Januari hingga Maret melalui media sosial Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan. Peserta minimal berusia 15 tahun dan merupakan warga Sumatera Selatan, termasuk yang sedang berdomisili di luar daerah.

“Tidak hanya memberikan hadiah uang pembinaan mulai dari Rp2 juta, Balai Bahasa juga memberikan pendampingan kepada para pemenang. Melalui bimbingan teknis penulisan dan penerjemahan cerita anak, pemenang dibimbing hingga naskah siap diterbitkan menjadi buku,” jelasnya.

Melalui program tersebut, Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan berharap semakin banyak karya cerita anak berbasis kearifan lokal yang mampu memperkuat karakter generasi muda sekaligus menjaga kelestarian bahasa daerah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....