Sejarah Keris Palembang

  • 30 Mei 2026 19:21 WIB
  •  Palembang

RRI.CO.ID, Palembang - Keris Palembang memiliki ciri khas tersendiri yang membedakannya dari keris daerah lain di Nusantara. Tidak hanya sebagai pusaka budaya, keris Palembang kini juga dipandang sebagai karya seni yang menyimpan sejarah, filosofi, serta identitas budaya masyarakat Palembang.

Hal tersebut disampaikan Heri Suranto, yang akrab disapa Cek Eri, seorang meranggi atau pengrajin hulu dan warangka keris khas Palembang dalam program Siaran Budaya Nusantara bertema “Keris Palembang Sebagai Karya Seni Nusantara”, Selasa, 26 Mei 2026.

Menurut Cek Eri, dahulu keris digunakan sebagai senjata sekaligus simbol jabatan pada masa kesultanan. Namun seiring perkembangan zaman, fungsi keris berubah menjadi benda seni dan kebudayaan yang sarat nilai sejarah.

“Kalau dulu keris itu dianggap senjata dan simbol jabatan seperti tongkat komando sekarang. Tapi sekarang lebih menjadi benda seni dan budaya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, keris Palembang memiliki pengaruh dari tiga budaya besar, yakni Jawa, Cirebon dan Melayu. Pengaruh Jawa terlihat pada bentuk bilah, teknik penempaan, hingga istilah-istilah dalam dunia perkerisan seperti “dapur” dan “luk”.

“Awalnya keris Palembang masih banyak yang berluk karena pengaruh Jawa sangat kuat. Namun setelah Kesultanan Palembang berdiri sendiri, bentuknya lebih banyak berubah menjadi lurus,” katanya.

Sementara pengaruh Cirebon tampak pada bentuk cincin keris dan sampir atau sarung keris. Sedangkan unsur Melayu terlihat pada bentuk hulu keris yang memiliki lenggok menyerupai orang duduk tahiyat.

“Kalau keris Jawa dan Cirebon hulunya banyak yang lurus, sedangkan Palembang ada lenggoknya. Itu yang menjadi ciri khas,” jelasnya.

Cek Eri juga menyebutkan bahwa setiap keris memiliki nilai seni yang berbeda. Tidak ada keris yang benar-benar sama karena tiap bilah mempunyai pamor, dapur, dan kemiringan yang berbeda.

Dalam tradisi lama, seorang empu bahkan membuat keris berdasarkan karakter pemesannya. Keris untuk pedagang berbeda dengan keris untuk pejabat atau panglima karena disertai doa dan harapan tertentu.

“Kalau untuk pedagang supaya dagangannya laris, kalau pejabat supaya berwibawa dan disegani,” katanya.

Meski memiliki unsur spiritual, Cek Eri menegaskan bahwa masyarakat Palembang tidak terlalu menonjolkan sisi klenik dalam budaya keris. Saat ini keris lebih dipandang sebagai simbol kebanggaan budaya.

“Orang Palembang sekarang punya keris itu lebih sebagai identitas budaya dan kebanggaan,” ujarnya.

Ia berharap ke depan keris Palembang semakin dikenal generasi muda melalui pameran budaya maupun muatan lokal di sekolah-sekolah agar warisan budaya tersebut tetap lestari.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....