Nugal Jadi Simbol Kebersamaan Masyarakat Besemah

  • 17 Feb 2026 01:23 WIB
  •  Palembang

RRI.CO.ID, Palembang - Tradisi nugal masih menjadi bagian penting kehidupan masyarakat Besemah dan Semende. Nilai gotong royong dalam tradisi ini dinilai tetap relevan di tengah modernisasi pertanian.

Hal itu disampaikan Mang Syafran Jali dalam program Behusek Besemah Libar Semende Panjang di Pro 4 RRI Palembang pada Rabu 11 Februari 2025. Ia menekankan nugal bukan sekadar aktivitas bercocok tanam.

Nugal merupakan tradisi menanam benih padi di kebun darat atau ladang. Prosesnya menggunakan tugal untuk melubangi tanah sebelum benih dimasukkan dan ditutup kembali.

Kegiatan ini biasanya dilakukan secara gotong royong oleh warga satu dusun. Bujang gadis, keluarga, hingga Karang Taruna terlibat dalam proses tersebut.

“Nugal ini bukan hanya soal bertanam tapi kebersamaan. Satu bidang kebun biasanya selesai sehari karena dikerjakan bersama-sama,” ujarnya.

Sebelum menanam, warga berkumpul untuk sarapan dan menikmati kudapan tradisional. Kebersamaan itu menjadi bagian tak terpisahkan dari rangkaian kegiatan.

Saat waktu istirahat tiba, masyarakat menyajikan makanan khas seperti serawu atau pacak. Hidangan tersebut dibuat dari labu kuning, pisang, ketan, serta bubur kacang hijau.

Suasana kebersamaan juga terasa ketika panen berlangsung. Proses panen dilakukan serempak dan menjadi ajang silaturahmi antar generasi.

Namun tradisi nugal kini mulai berkurang akibat masuknya teknologi pertanian modern. Penggunaan traktor dan sistem kerja mandiri mengubah pola kerja masyarakat.

“Sekarang kerja lebih banyak pakai alat jadi kebersamaan itu perlahan berkurang. Modernisasi membuat interaksi sosial tidak seintens dahulu,” tuturnya.

Meski demikian, nugal tetap dipandang sebagai warisan budaya bernilai sosial tinggi. Tradisi ini diharapkan terus diperkenalkan kepada generasi muda agar tidak hilang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....