Pernak-Pernik Keris Palembang, yang Sarat Filosofi dan Nilai Seni
- 31 Mei 2026 21:22 WIB
- Palembang
RRI.CO.ID, Palembang – Keindahan Keris Palembang tidak hanya terletak pada bilahnya, tetapi juga pada berbagai pernak-pernik yang melengkapinya. Setiap bagian keris memiliki bentuk, ukiran, hingga filosofi yang mencerminkan perpaduan budaya dan identitas masyarakat Palembang sejak masa Kesultanan Palembang Darussalam.
Pengrajin hulu dan warangka keris khas Palembang, Heri Sutanto atau Cek Eri, menjelaskan bahwa keris Palembang memiliki sejumlah ciri khas yang membedakannya dari keris daerah lain di Nusantara.
“Kalau Keris Palembang itu pembeda utamanya ada pada hulunya, cincin kerisnya, bilahnya, sampai bentuk sampir atau sarungnya,” ujar Cek Eri ketika memberikan keterangan, Selasa 26 Mei 2026.
Salah satu bagian yang paling mencolok adalah hulu atau gagang keris. Pada Keris Palembang, bentuk hulu umumnya memiliki lenggok menyerupai orang yang sedang duduk tahiyat. Lengkungan tersebut menjadi ciri khas budaya Melayu yang melekat pada keris Palembang.
Terdapat empat jenis hulu yang dikenal dalam tradisi Keris Palembang, yakni Hulu Putri Malu yang berbentuk kepala manusia, Hulu Ludai atau kepala burung enggang laut, Hulu Jawa Demam Anak Ayam yang menyerupai anak ayam, serta Hulu Primitif dengan bentuk abstrak menyerupai kepala manusia.
“Walaupun bentuknya burung atau anak ayam, kalau dilihat dari belakang tetap ada lekuk seperti orang duduk tahiyat,” jelas Cek Eri.
Pada masa lalu, hulu keris banyak dibuat dari kayu pilihan seperti tembesu, limar, kemuning, hingga gading. Kini bahan-bahan tersebut semakin langka sehingga pengrajin lebih banyak menggunakan kayu keras yang masih tersedia.
Selain hulu, bagian penting lainnya adalah cincin keris atau mendak yang berada di antara gagang dan bilah. Cincin khas Palembang memiliki bentuk yang mendapat pengaruh budaya Cirebon, namun dihiasi motif-motif ukiran khas Palembang yang berbeda dari daerah lain.
Tak kalah menarik adalah warangka atau sarung keris. Pada Keris Palembang dikenal dua bentuk utama sampir, yakni sampir perahu dan sampir bulan sabit atau bulan sehari. Bentuk perahu menjadi simbol kehidupan masyarakat Palembang yang sejak dahulu sangat dekat dengan Sungai Musi sebagai jalur transportasi utama.
“Bentuk perahu itu melambangkan kegagahan sekaligus budaya sungai masyarakat Palembang,” katanya.
Bagian luar warangka juga sering dilengkapi dengan pedok atau selubung logam yang terbuat dari kuningan, perak, suasa, hingga emas. Beberapa pedok dihiasi ukiran halus dan batu-batu permata yang menambah nilai artistik sekaligus nilai ekonomi keris tersebut.
Menurut Cek Eri, motif ukiran khas Palembang memiliki ciri tersendiri. Salah satunya adalah motif bunga kecil dengan lima kelopak yang melambangkan Rukun Islam.
“Orang-orang terdahulu membuat sesuatu selalu ada filosofi yang ingin disampaikan kepada anak cucunya,” tambahnya.
Keindahan pernak-pernik Keris Palembang semakin lengkap dengan keberadaan pamor pada bilah keris. Pamor merupakan motif alami yang muncul dari proses lipatan besi berulang kali saat penempaan. Pada keris lama, pamor bisa terbentuk dari ratusan hingga ribuan lipatan besi sehingga menghasilkan gradasi warna yang unik dan tidak pernah sama antara satu keris dengan keris lainnya.
Saat ini, keberadaan pengrajin yang mampu membuat ukiran dan pernak-pernik Keris Palembang semakin sedikit. Karena itu, pelestarian kerajinan hulu, warangka, pedok, dan ornamen khas Palembang menjadi bagian penting dalam menjaga warisan budaya yang telah diwariskan turun-temurun.
Bagi masyarakat Palembang, pernak-pernik pada keris bukan sekadar hiasan. Setiap ukiran, bentuk, dan detailnya merupakan simbol sejarah, identitas budaya, serta karya seni tinggi yang mencerminkan kebesaran tradisi Melayu Palembang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....