Kemiskinan dalam Islam Bukan Sekadar Soal Sedikitnya Harta
- 25 Agt 2026 23:53 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Kemiskinan tidak hanya soal harta, tetapi juga berkaitan dengan kondisi spiritual, emosional, dan sosial seseorang.
- Rasa syukur dan pola pikir memengaruhi cara seseorang memandang rezeki, sehingga tidak terus merasa kekurangan meskipun memiliki keterbatasan.
- Mencari rezeki perlu diiringi usaha, tawakal, dan kepedulian sosial, termasuk membantu orang lain tanpa melihatnya sebagai pesaing.
RRI.CO.ID, Palembang - Kemiskinan dalam perspektif Islam tidak hanya berkaitan dengan jumlah harta yang dimiliki seseorang, tetapi juga menyangkut kondisi spiritual dan emosional. Ustaz Imron Taslim menyampaikan pandangan tersebut dalam program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Palembang, Selasa, 25 Agustus 2026.
Ustaz Imron menjelaskan, seseorang dapat merasa kekurangan ketika menggantungkan harapan kepada manusia dan menjadikan harta sebagai ukuran utama kehidupan. Menurutnya, seorang muslim harus tetap menempatkan Allah SWT sebagai tempat bergantung dalam setiap urusan, termasuk rezeki.
Ia mengatakan pola pikir dan cara seseorang menyikapi kehidupan turut memengaruhi cara memandang rezeki. Rasa syukur menjadi salah satu faktor penting dalam membangun ketenangan ketika menghadapi kondisi ekonomi.
“Orang yang tidak bersyukur tidak pernah memuji pemberian Allah,” ujar Ustaz Imron.
Menurutnya, seseorang yang memiliki banyak harta tetap dapat merasa miskin jika selalu merasa kurang dan tidak mensyukuri apa yang dimiliki. Sebaliknya, seseorang dengan harta sederhana dapat merasa berkecukupan apabila mampu menerima dan mensyukuri rezeki Allah SWT.
Ustaz Imron juga mengingatkan masyarakat untuk menjaga ucapan ketika menghadapi kesulitan ekonomi. Kebiasaan mengeluh dan terus menganggap diri kekurangan dinilai dapat membentuk pola pikir yang semakin jauh dari rasa syukur.
Selain aspek spiritual dan emosional, kepedulian sosial juga menjadi bagian penting dalam menghadapi persoalan kemiskinan. Masyarakat diingatkan untuk memuliakan anak yatim, membantu orang miskin, serta tidak mengambil hak orang lain melalui cara yang batil.
Dalam mencari rezeki, Ustaz Imron menekankan pentingnya menggabungkan usaha nyata dengan kesiapan batin. Manusia tetap perlu bekerja dan berusaha, sekaligus membangun hubungan yang baik dengan diri sendiri dan lingkungan.
“Dalam mencari rezeki itu ada teknis, ada nonteknis dimana teknisnya kita bekerja, sedangkan nonteknisnya kita damai dengan diri sendiri,” ujarnya.
Ia menjelaskan, berdamai dengan diri sendiri dapat diwujudkan dengan tidak menjadikan orang lain sebagai pesaing dalam memperoleh rezeki. Sikap saling membantu dan memberikan kesempatan kepada orang lain dinilai menjadi bagian dari kebaikan dalam kehidupan sosial.
Dengan demikian, kemiskinan dalam perspektif Islam tidak hanya diukur berdasarkan banyak atau sedikitnya harta. Sikap hati dalam menerima, mensyukuri, dan mengelola rezeki menjadi bagian penting dalam membangun rasa kecukupan.
“Konsep miskin itu bukan berarti hartanya sedikit, tapi hatinya yang lapang,” tutupnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....