Memaknai Kemerdekaan Sejati dalam Islam, Dimulai dari Diri Sendiri

  • 22 Agt 2026 06:05 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Kemerdekaan sejati dalam Islam berarti membebaskan diri dari hawa nafsu, keserakahan, iri, dengki, dan penghambaan kepada selain Allah SWT.
  • Kebebasan harus disertai tanggung jawab, dengan menyeimbangkan hak dan kewajiban serta menghormati keadilan dan kepentingan orang lain.
  • Kemerdekaan juga perlu diterapkan di era digital, dengan mengendalikan penggunaan media sosial dan mengarahkan teknologi untuk kegiatan yang positif dan bermanfaat.

RRI.CO.ID, Palembang – Kemerdekaan dalam perspektif Islam tidak hanya dimaknai sebagai kebebasan sebuah bangsa dari penjajahan, tetapi juga pembebasan manusia dari penghambaan kepada selain Allah SWT. Hal tersebut disampaikan Penyuluh Agama Islam Kantor Kementerian Agama Kota Palembang, Ustaz Dian Kristiawan, dalam program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Palembang, Kamis, 20 Agustus 2026.

Ustaz Dian menjelaskan, kemerdekaan sejati dapat dimulai dengan membebaskan diri dari hawa nafsu, keserakahan, iri, dengki, kesombongan, dan kecintaan berlebihan terhadap dunia. Menurutnya, manusia yang benar-benar merdeka adalah mereka yang menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya tempat penghambaan.

Selain itu, kemerdekaan sejati juga diwujudkan melalui pembebasan dari kezaliman menuju keadilan serta dari kebodohan menuju ilmu dan akhlak. "Pentingnya setiap orang menjalankan hak dan kewajibannya secara seimbang agar keadilan dapat tumbuh dalam keluarga maupun kehidupan bermasyarakat," ujar Ustaz Dian.

Kemerdekaan sejati, menurutnya, berkaitan erat dengan kemampuan seseorang menjalankan kebebasan secara bertanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat. Ustaz Dian menilai kebebasan tidak berarti seseorang dapat bertindak sesuka hati, melainkan tetap harus memperhatikan hak, keadilan, dan kepentingan orang lain.

Ustaz Dian juga mengingatkan masyarakat agar mampu mengendalikan hawa nafsu di tengah perkembangan teknologi dan penggunaan media sosial. Menurutnya, teknologi seharusnya dimanfaatkan untuk kegiatan positif, seperti berdagang, menyebarkan informasi bermanfaat, berdakwah, dan membangun hubungan yang baik dengan masyarakat.

Ia menilai kebiasaan membandingkan kehidupan dengan orang lain melalui media sosial dapat memicu iri, dengki, dan keinginan berlebihan. Karena itu, masyarakat perlu mengarahkan keinginan kepada hal-hal produktif, seperti bekerja, memenuhi kebutuhan keluarga, menuntut ilmu, serta mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat.

Memasuki 81 tahun kemerdekaan Indonesia, ia mengajak masyarakat untuk tidak hanya mensyukuri kemerdekaan bangsa, tetapi juga melakukan evaluasi terhadap kemerdekaan diri masing-masing. Kemerdekaan sejati, menurutnya, tercermin ketika manusia mampu mengendalikan hawa nafsu, menjalankan kewajiban kepada Allah SWT, serta memberikan manfaat bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan agama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....