Peran Generasi Muda Menjaga Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Persatuan
- 23 Jun 2026 15:22 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Nindy Octavia menyebut pentingnya penggunaan Bahasa sesuai konteks dan situasi
- Fokus Program Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan adalah pada pembinaan lembaga serta penyuluhan kemahiran berbahasa demi membangun kesadaran masyarakat.
- Bahasa Indonesia tetap memegang peran utama sebagai bahasa persatuan.
RRI.CO.ID, Palembang - Di tengah berkembangnya bahasa asing, bahasa gaul, dan bahasa daerah di ruang publik, penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan tepat dinilai semakin penting. Terlebih, generasi muda kini hidup di tengah beragam pengaruh bahasa yang terus berkembang.
Hal itu disampaikan Nindy Octavia, Widyabasa Ahli Pertama dari Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan dalam program Spada Pro 2 Palembang edisi Kita Indonesia pada Senin, 22 Juni 2026.
Dalam kesempatan itu, Nindy menjelaskan fokus kerjanya berada pada pembinaan lembaga dan penyuluhan kemahiran berbahasa. Ia juga bertanggung jawab memastikan seluruh program berjalan sesuai rencana selama satu tahun penuh.
“Fokus kami adalah pembinaan lembaga dan penyuluhan kemahiran berbahasa. Saya menjadi penanggung jawab untuk memastikan kegiatan tersebut berjalan sesuai target selama satu tahun,” ujarnya.
Menurutnya, tugas di bidang kebahasaan bukan hanya soal aturan, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat dalam menggunakan bahasa sesuai konteks. Hal ini menjadi penting di tengah semakin beragamnya penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari.
Nindy mengaku dirinya berada di posisi yang unik sebagai generasi muda sekaligus bagian dari pemerintah. Ia melihat langsung bagaimana bahasa asing, bahasa gaul, hingga bahasa daerah kini semakin akrab digunakan.
“Saya merasa sebagai generasi yang berdiri di dua kaki. Di satu sisi menjadi perpanjangan tangan pemerintah, tetapi di sisi lain juga bagian dari generasi muda yang terpapar berbagai ragam bahasa,” katanya.
Meski begitu, Nindy menilai setiap bahasa memiliki ruang penggunaannya masing-masing. Kuncinya adalah memahami situasi agar komunikasi tetap tepat dan efektif.
“Kalau saya, menempatkan bahasa sesuai situasinya. Saat formal tentu mengutamakan Bahasa Indonesia, tetapi ketika bersama teman biasanya lebih santai,” jelasnya.
Ia berharap generasi muda semakin sadar bahwa Bahasa Indonesia tetap memiliki peran utama sebagai bahasa persatuan. Sementara bahasa lain tetap bisa digunakan sesuai kebutuhan komunikasi di lingkungan masing-masing.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....