Globalisasi Jadi Tantangan Pelestarian Bahasa Daerah di Sumsel
- 29 Mei 2026 15:31 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Globalisasi dan teknologi menjadi tantangan utama pelestarian bahasa daerah di Sumsel
- Enam bahasa daerah di Sumsel masih aktif digunakan dan tergolong dalam kondisi aman
- Keluarga dan generasi muda memiliki peran penting menjaga keberlangsungan bahasa daerah
RRI.CO.ID, Palembang - Arus globalisasi dan perkembangan teknologi dinilai menjadi tantangan besar bagi keberlangsungan bahasa daerah di Sumatera Selatan. Perubahan pola komunikasi masyarakat membuat penggunaan bahasa daerah mulai tergerus oleh bahasa nasional dan bahasa internasional.
Meski demikian, Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan mencatat enam bahasa daerah masih aktif digunakan hingga saat ini. Bahasa tersebut meliputi Lematang, Komering, Melayu, Ogan, Kayuagung, dan Pedamaran yang tersebar di berbagai wilayah Sumsel.
Anggota Tim Pembinaan Bahasa dan Sastra Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan, Yeni Afrita, mengatakan kondisi bahasa daerah di Sumsel masih tergolong aman. Namun, ancaman penurunan jumlah penutur tetap perlu diantisipasi sejak dini.
Menurut Yeni, salah satu penyebab berkurangnya penggunaan bahasa daerah adalah meningkatnya penggunaan bahasa mayoritas dalam kehidupan sehari-hari. Fenomena tersebut dipengaruhi oleh globalisasi dan urbanisasi yang terus berkembang.
“Arus globalisasi membuat masyarakat lebih sering menggunakan bahasa mayoritas dibanding bahasa daerah,” ujar Yeni dalam program Spada edisi Kita Indonesia, Senin, 18 Mei 2026.
Ia menjelaskan bahasa nasional dan bahasa internasional kini lebih dominan digunakan dalam pendidikan, pekerjaan, dan komunikasi modern. Akibatnya, penggunaan bahasa daerah di sejumlah lingkungan sosial mulai berkurang.
Selain globalisasi, perkembangan teknologi dan media sosial juga memengaruhi kebiasaan berbahasa generasi muda. Banyak anak muda yang lebih terbiasa menggunakan bahasa populer dibandingkan bahasa daerah.
“Kurangnya penggunaan bahasa daerah di lingkungan keluarga menjadi salah satu penyebab utama menurunnya jumlah penutur,” katanya. Menurutnya, keluarga memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan bahasa daerah.
Yeni menambahkan stigma sosial juga menjadi tantangan dalam pelestarian bahasa daerah. Sebagian masyarakat masih merasa kurang percaya diri menggunakan bahasa daerah dalam pergaulan sehari-hari.
“Pelestarian bahasa daerah harus dimulai dari rumah agar generasi muda tetap mengenal bahasa leluhurnya,” tambahnya. Ia menilai penggunaan bahasa daerah secara aktif merupakan langkah sederhana yang sangat penting.
Balai Bahasa Sumatera Selatan berharap masyarakat tetap bangga menggunakan bahasa daerah dalam berbagai kesempatan. Upaya tersebut dinilai menjadi kunci menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....