Strategi Baru Teroris: Sasar Generasi Muda lewat Ruang Digital
- 03 Mei 2026 23:22 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Radikalisasi kini memanfaatkan ruang digital dan grup aplikasi pesan singkat (WhatsApp).
- Generasi muda, perempuan, dan anak-anak menjadi sasaran utama perekrutan teroris.
- Edukasi wawasan kebangsaan, pembatasan gawai di sekolah, dan pengawasan ketat dari orang tua.
- Pentingnya melaporkan konten berbau SARA dan ujaran kebencian kepada pihak berwajib.
RRI.CO.ID, Palembang - Dunia digital yang berkembang pesat kini menjadi pedang bermata dua, memicu dampak positif sekaligus mempermudah penyebaran paham radikalisme. Wahyu Ansori, Tim Pencegahan Satgaswil Sumatera Selatan Densus 88 AT Polri, menegaskan isu krusial ini saat menjadi narasumber acara Moderasi Beragama di Studio Pro 1 RRI Palembang, Selasa, 28 April 2026.
Wahyu menerangkan bahwa salah satu dampak negatif transformasi digital yang paling nyata adalah kemunculan tindakan terorisme yang makin terselubung. Tim Satgaswil mengamati adanya pergeseran pola radikalisasi, di mana perekrutan kini beralih dari metode tatap muka langsung menjadi berbasis platform digital.
Meskipun radikalisasi konvensional melalui kajian keagamaan, seminar, dan komunitas masih eksis, pola digital kini jauh lebih dominan dan berbahaya. Perkembangan teknologi memungkinkan kelompok radikal menjangkau calon anggota tanpa hambatan jarak maupun waktu.
"Para pelaku teror membidik generasi muda yang sedang mencari jati diri dengan menempatkan perempuan dan anak sebagai pelaku aksi," tegas Wahyu. Strategi ini menunjukkan perubahan taktik kelompok teror yang memanfaatkan sosok-sosok yang sering luput dari kecurigaan aparat.
Densus 88 terus mengupayakan pencegahan melalui edukasi berkelanjutan dan imbauan kepada seluruh elemen masyarakat serta pihak terkait. Edukasi ini menyasar generasi muda melalui berbagai kanal dialog, mulai dari media sosial, televisi, hingga siaran radio.
Wahyu mengungkapkan bahwa petugas sering menemukan penyebaran paham terorisme di dalam grup WhatsApp yang bersifat tertutup. Pihak kepolisian melakukan penanganan secara masif demi mencegah percikan paham tersebut berkembang menjadi aksi terorisme yang mematikan.
Tim Satgaswil memberikan pendampingan khusus berupa penguatan wawasan kebangsaan, pemahaman keagamaan yang moderat, serta asesmen psikologi bagi individu terpapar. Selain itu, sikap bijak dalam menggunakan teknologi menjadi langkah proteksi diri yang paling efektif bagi setiap individu.
Pemerintah daerah pun turut mengambil peran dengan membatasi penggunaan gawai di lingkungan rumah maupun sekolah sesuai aturan yang berlaku. Langkah ini sejalan dengan Surat Edaran dari Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan guna meminimalkan paparan konten radikal pada pelajar.
Wahyu mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan segala informasi yang mengandung ujaran kebencian atau ajakan kekerasan yang bertentangan dengan NKRI. Publik harus waspada terhadap konten yang menyerang SARA serta mengancam semangat kebhinekaan di tanah air.
"Orang tua wajib mengawasi penggunaan gawai anak-anak karena informasi digital menembus batas geografis tanpa filter," pesan Wahyu saat menutup dialog. Tim Satgaswil mengingatkan masyarakat agar selalu menyaring informasi dan tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang menyesatkan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....