Kian Pudar, Pengerajin Keris Palembang Semakin Langka

  • 30 Mei 2026 19:26 WIB
  •  Palembang

RRI.CO.ID, Palembang - Keberadaan pengrajin keris khas Palembang kini semakin langka. Bahkan, pembuat ukiran hulu dan warangka keris (meranggi) khas Palembang yang masih aktif di Sumatera Selatan disebut tidak sampai lima orang.

Hal itu diungkapkan Heri Suranto atau Cek Eri, seorang meranggi keris Palembang dalam program Siaran Budaya Nusantara di Pro 4 RRI, Selasa, 26 Mei 2026. Menurutnya, saat ini di Palembang sudah tidak ada lagi empu yang membuat bilah keris dari awal. Untuk kebutuhan bilah keris baru, dirinya masih memesan dari Madura maupun Jawa.

“Kalau empu itu yang membuat bilah dari awal. Di Palembang sudah enggak ada lagi,” ujarnya,

Cek Eri menjelaskan, pembuatan bilah keris tradisional membutuhkan proses panjang dan rumit. Sebuah bilah berpamor bisa dibuat dari delapan ratus hingga dua ribu lipatan besi dengan waktu pengerjaan mencapai enam bulan sampai satu tahun.

“Dulu para empu bisa fokus karena dibiayai sultan atau penguasa. Kalau sekarang sangat sulit,” katanya.

Sebagai meranggi, tugasnya lebih banyak membuat hulu, sampir, dan warangka keris. Ia mengaku saat ini menjadi salah satu pengrajin yang masih mengerjakan ukiran khas Palembang secara manual.

“Kalau yang ukiran khas Palembang setahu saya baru saya yang masih aktif,” ungkapnya.

Ia menyebutkan ada empat jenis hulu keris khas Palembang yang dikenal hingga kini, yakni hulu Putri Malu berbentuk kepala manusia, Hulu Ludai berbentuk kepala burung enggang laut, Hulu Jawa Demam Anak Ayam, dan Hulu Primitif dengan bentuk abstrak menyerupai kepala manusia.

Bahan pembuatan hulu pada masa lalu banyak menggunakan kayu keras seperti tembesu, limar (nagasrari), unglen, mahoni dan kemuning. Sebagian kecil bahkan dibuat dari gading.

Namun kini bahan-bahan tersebut mulai sulit ditemukan sehingga pengrajin memakai kayu yang masih tersedia di pasaran atau menggunakan bahan pesanan khusus seperti cendana dan gaharu.

Selain bentuk hulunya, keris Palembang juga memiliki ciri khas pada sampir berbentuk perahu dan bulan sabit. Filosofi bentuk perahu melambangkan kehidupan masyarakat Palembang yang erat dengan budaya sungai.

“Transportasi masyarakat dulu banyak lewat sungai, jadi bentuk perahu itu punya makna tersendiri,” katanya.

Cek Eri juga mengungkapkan bahwa banyak keris Palembang bernilai tinggi justru berada di luar negeri. Kolektor dari Malaysia, Brunei, hingga Singapura disebut sangat meminati keris Palembang karena dianggap memiliki nilai seni dan sejarah tinggi.

“Harganya bisa puluhan sampai ratusan juta rupiah untuk keris lama,” ujarnya.

Meski minat kolektor luar daerah cukup tinggi, peminat di Palembang sendiri masih didominasi untuk restorasi atau perbaikan keris lama milik keluarga.

Ia berharap pemerintah daerah dapat memberi perhatian lebih terhadap pelestarian keris Palembang melalui pameran budaya dan pendidikan muatan lokal agar generasi muda mengenal warisan leluhur mereka. “Kalau tanjak sudah dikenal, sekarang giliran keris Palembang yang harus kembali diangkat,” tutupnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....