Bangga Berbahasa Daerah, Lestarikan Warisan Bangsa

  • 17 Feb 2026 10:08 WIB
  •  Palembang

RRI.CO.ID - Setiap tanggal 21 Februari, dunia memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional. Peringatan ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran akan keberagaman bahasa dan budaya, sekaligus mendorong praktik multilingualisme di tengah masyarakat global yang semakin terhubung.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan, Desi Ari Pressanti, dalam program Spada Pro 2 RRI Palembang edisi Kita Indonesia, Senin (16/2/2026), menegaskan bahwa peringatan ini bertujuan melindungi keberagaman linguistik bangsa-bangsa di dunia. Selain itu, momen ini juga menjadi pengingat pentingnya menjaga tradisi bahasa dan budaya, serta mendorong penggunaan bahasa ibu dalam dunia pendidikan.

“Bahasa ibu adalah bahasa pertama yang dipelajari seseorang sejak kecil. Bisa berupa bahasa daerah, ataupun bahasa nasional sesuai kewarganegaraan sang ibu,” jelasnya. Ia menambahkan, jika seseorang sejak lahir telah mengenal dan menggunakan bahasa tertentu, maka bahasa itulah yang disebut sebagai bahasa ibu.

Peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional juga menegaskan betapa pentingnya bahasa ibu dalam membentuk identitas budaya serta mendukung proses pembelajaran. Di tengah ribuan bahasa yang ada di dunia, tidak sedikit yang kini terancam punah. Karena itu, upaya pelindungan dan pelestarian bahasa menjadi tanggung jawab bersama.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan, terdapat enam bahasa daerah yang digunakan masyarakat di Sumatera Selatan, yakni bahasa Lematang, Komering, Melayu, Ogan, Kayuagung, dan Pedamaran. Kabar baiknya, status penggunaan bahasa ibu di Sumatera Selatan masih tergolong aman, berbeda dengan sejumlah daerah lain yang mengalami kemunduran bahkan kepunahan bahasa.

Desi pun berpesan kepada masyarakat, khususnya generasi muda, agar tidak malu menggunakan bahasa daerah.

“Bahasa daerah adalah kekayaan budaya yang tidak dimiliki semua orang. Jadi, berbanggalah jika menguasai bahasa daerah setempat. Tetap bersikap positif karena bahasa daerah merupakan kekayaan bangsa yang perlu terus dilestarikan,” ujarnya.

Melalui peringatan ini, diharapkan masyarakat semakin menyadari bahwa menjaga bahasa ibu bukan sekadar mempertahankan alat komunikasi, tetapi juga merawat jati diri dan warisan budaya bangsa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....