Enam Bahasa Daerah di Sumsel Masih Aktif Digunakan
- 29 Mei 2026 15:27 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Balai Bahasa Sumsel mencatat enam bahasa daerah masih aktif digunakan masyarakat
- Bahasa daerah dinilai tetap terjaga dan belum mengalami penurunan signifikan di Sumsel
- Generasi muda didorong untuk bangga menggunakan bahasa daerah sebagai identitas budaya
RRI.CO.ID, Palembang - Di tengah derasnya arus modernisasi, enam bahasa daerah di Sumatera Selatan masih bertahan dan aktif digunakan masyarakat. Kondisi ini menunjukkan bahasa daerah tetap menjadi bagian penting dari identitas budaya dan kehidupan sosial masyarakat.
Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan mencatat bahasa Lematang, Komering, Melayu, Ogan, Kayuagung, dan Pedamaran masih digunakan di berbagai wilayah. Keberadaan bahasa-bahasa tersebut dinilai relatif aman dibandingkan sejumlah daerah lain yang mulai mengalami penurunan penutur.
Anggota Tim Perlindungan Bahasa dan Sastra Balai Bahasa Sumatera Selatan, Yeni Mastuti, mengatakan pelestarian bahasa daerah harus dilakukan sejak dini. Hal itu disampaikannya dalam program Spada edisi Kita Indonesia, Senin, 18 Mei 2026.
Menurut Yeni, bahasa daerah tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi antarmasyarakat. Bahasa daerah juga menjadi simbol identitas budaya sekaligus cerminan sejarah suatu daerah.
“Bahasa daerah merupakan warisan budaya yang sangat berharga dan tidak dimiliki setiap orang,” ujar Yeni. Ia mengajak masyarakat untuk bangga menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari.
Yeni menilai penggunaan bahasa daerah harus terus dibiasakan agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman. Kebiasaan berbahasa daerah dinilai menjadi langkah sederhana namun efektif dalam menjaga keberlangsungannya.
Ia menegaskan keluarga memiliki peran penting dalam mengenalkan bahasa daerah kepada anak-anak sejak usia dini. Lingkungan sosial juga berperan dalam menciptakan ruang penggunaan bahasa daerah secara alami.
“Generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan bahasa daerah agar tidak hilang ditelan zaman,” katanya. Menurutnya, pelestarian bahasa daerah tidak bisa hanya mengandalkan lembaga pemerintah.
Kesadaran masyarakat menjadi faktor utama dalam menjaga keberlanjutan bahasa daerah. Semakin sering bahasa daerah digunakan dalam kehidupan sehari-hari, semakin besar peluang bahasa tersebut tetap bertahan.
“Jika bahasa daerah terus digunakan dalam keluarga dan lingkungan sosial, maka warisan budaya itu akan tetap hidup,” tambahnya. Ia berharap bahasa daerah terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Balai Bahasa Sumatera Selatan mengingatkan bahwa bahasa daerah merupakan bagian dari kekayaan budaya bangsa. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan terus menjaga dan melestarikannya sebagai identitas yang membanggakan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....