Jalinteng Sumsel Siap Dilintasi Pemudik, Aspal Tua Jadi Tantangan
- 10 Mar 2026 09:10 WIB
- Palembang
RRI.CO.ID, Palembang - Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional (Satker PJN) II Sumatera Selatan memastikan kesiapan jalur mudik Lebaran 2026 di sepanjang 555,38 KM jalan nasional yang berada di bawah kewenangannya. Meski menghadapi tantangan cuaca ekstrem dan penuaan aspal, perbaikan jalan terus dikebut demi menjamin keselamatan pengguna jalan di lintas tengah.
Kepala Satker PJN II Sumatera Selatan, Mardalena, menyatakan, pihaknya telah bergerak sejak awal tahun untuk menyisir kerusakan jalan. Tantangan utama tahun ini adalah tingginya curah hujan sejak Januari hingga Februari yang memicu munculnya lubang-lubang baru secara cepat.
"Begitu hujan ekstrem mulai dari pertengahan Januari sampai Februari akhir, curah hujan cukup tinggi. Itu ternyata yang tadinya retak menjadi lubang dan jumlahnya semakin banyak. Jadi kami menyisir lubangnya lebih kencang, yang tadinya mungkin hanya (dilakukan, red) dengan satu tim melalui swakelola, kami tambah dengan tim dari penyedia jasa," ungkap Mardalena menjelaskan strategi percepatan perbaikan, Senin, 9 Maret 2026.
.webp)
Baca juga: Mudik 2026: Jalan Berlubang di Jalinteng Sumsel-Jambi Sudah Ditutup
Kondisi aspal yang rata-rata sudah berumur di atas lima tahun (aging) membuat permukaan jalan sangat rentan. Artinya, kemungkinan untuk muncul lubang baru masih sangat besar dengan pengaruh cuaca ekstrem. Mardalena memberikan perumpamaan unik terkait kerusakan ini. "Kalau aspalnya aging ini kalau dia retak tidak segera ditutup, yang tadinya retak buayanya kecil jadi buayanya gede, akhirnya jadi dinosaurus. Jadi akhirnya berlubang," jelasnya.
Saat ini, progres penutupan lubang telah mencapai 95 hingga 97 persen. Titik-titik yang sempat viral karena kerusakan parah, seperti di Pulau Panggung dan Tanjung Agung (Muara Enim), kini telah ditangani secara fungsional. "Alhamdulillah sudah teraspal, tapi tetap pengerjaannya secara bukan pekerjaan permanen yang rekonstruksi, tapi di-holding dulu istilah kalau di kami seperti itu," tambah Mardalena.
Menghadapi puncak arus mudik, sebanyak lima posko disiagakan di setiap unit PPK dengan fasilitas lengkap seperti ruang istirahat, musala, dan toilet. Selain itu, alat berat dan material agregat disiagakan selama 21 hari (H-10 hingga H+10) untuk mengantisipasi kejadian darurat.

Baca juga: Jalur Mudik Jalinteng Baturaja Dibersihkan dari Lubang
Mardalena juga memetakan titik rawan macet yang berpusat di area pasar dan pusat perbelanjaan, seperti di Kota Lahat dan jalur wisata menuju Pagar Alam. Ia mengimbau pemudik untuk mengecek kondisi kendaraan dan memanfaatkan teknologi navigasi.
"Sekarang sudah ada fasilitas Google Map, bisa cari alternatif jalan lain itu bisa juga membantu atau ya harap bersabar kalau memang ketemu macet," tuturnya.
Terkait infrastruktur jembatan, perhatian khusus diberikan pada Jembatan Kebur di Merapi Barat, Kabupaten Lahat, yang memiliki panjang 200 meter. Belajar dari insiden Jembatan Lawai tahun lalu, Mardalena memberikan peringatan keras agar pengendara tidak menumpuk kendaraan di atas jembatan saat terjadi kemacetan.
"Sedapat mungkin kalau memang harus mengantre jangan di atas jembatan. Harus jauh dari situ. Karena antrean kendaraan di atas jembatan akan jadi beban mati yang semakin menambah beban jembatan," tegas Mardalena menutup penjelasannya.