Risiko Karhutla Meningkat, Kalteng Kembali Jadi Lokasi Operasi Modifikasi Cuaca

  • 29 Jul 2026 19:10 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya - Pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kembali melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Kalimantan Tengah mulai 27 Juli hingga 2 Agustus 2026. Langkah ini dilakukan sebagai upaya meningkatkan potensi hujan guna mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan yang mulai meningkat seiring musim kemarau.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya, Sugiyono, mengatakan operasi modifikasi cuaca menggunakan garam natrium klorida atau NaCl sebagai bahan penyemaian awan. Menurutnya, berdasarkan kajian teknis bersama BNPB dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, hingga akhir Juli dan awal Agustus masih terdapat potensi pertumbuhan awan yang efektif untuk dilakukan penyemaian di wilayah Pulang Pisau, Kapuas, Kotawaringin Timur, Kotawaringin Barat, dan Gunung Mas.

"Syarat untuk melakukan operasi modifikasi cuaca ini adanya awan-awan yang benar-benar konvenktif. Awan-awan yang kemungkinan bisa kita semai dan menjadi hujan. Berdasarkan kajian teknis bersama BNPB dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, di akhir Juli sampai awal Agustus memang masih ada potensi pertumbuhan awan yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan operasi modifikasi cuaca," ujarnya, Rabu, 29 Juli 2026.

Pelaksanaan OMC difokuskan di sejumlah wilayah rawan karhutla, dengan dukungan BMKG sebagai penyedia informasi cuaca dan BPBD sebagai bagian dari penanganan di lapangan. Selain menyediakan kajian potensi awan, BMKG juga bertugas memberikan informasi cuaca secara real time selama operasi berlangsung. Data arah angin, pergerakan awan, hingga kondisi atmosfer menjadi acuan bagi tim pelaksana untuk menentukan lokasi penyemaian awan agar operasi dapat berjalan lebih efektif.

Di sisi lain, BPBD Kota Palangka Raya terus memperkuat upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan yang mulai meningkat selama musim kemarau. Hingga saat ini tercatat puluhan kejadian karhutla dengan wilayah terbanyak berada di Kecamatan Jekan Raya dan Pahandut.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Palangka Raya, Heri Pauzi, mengatakan strategi utama yang dilakukan adalah merespons setiap laporan kebakaran secepat mungkin agar api tidak meluas. Namun, upaya pemadaman sering terkendala lokasi titik api yang jauh dari jalan serta minimnya sumber air akibat musim kemarau.

"Kami berusaha semaksimal mungkin melakukan upaya pemadaman secepat mungkin. Ketika ada laporan awal masuk, tim langsung menuju lokasi supaya api ini tidak cepat membesar. Kendala kami di lapangan, titik api sering jauh dari pinggir jalan dan sumber air juga mulai mengering sehingga proses pemadaman membutuhkan waktu dan peralatan tambahan," katanya saat menjadi narasumber Dialog Kentongan di Pro 1 RRI Palangka Raya.

BMKG dan BPBD Palangka Raya mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, segera melaporkan apabila menemukan titik api, serta menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan karena kualitas udara mulai menurun akibat kabut asap. Sinergi pemerintah dan masyarakat diharapkan mampu meminimalkan dampak karhutla selama puncak musim kemarau di Kalimantan Tengah. (Juli Yanti)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....