Musim Kemarau, Kalimantan Tengah Waspadai Peningkatan Kejadian Karhutla

  • 20 Jul 2026 21:12 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi salah satu risiko bencana yang selalu diwaspadai di Kalimantan Tengah. Memasuki musim kemarau, cuaca yang semakin panas dan curah hujan yang minim meningkatkan potensi karhutla di berbagai wilayah, termasuk kawasan lahan gambut.

Kepala Daerah Operasi Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan Balai Taman Nasional Sebangau, Androw Mikho Sion, mengatakan pihaknya terus melakukan pemantauan titik api di kawasan Taman Nasional Sebangau. Dari hasil pemantauan melalui berbagai sistem monitoring, terdapat dua titik yang dipastikan berpotensi mengalami kebakaran sehingga terus diawasi secara intensif.

"Ada dua hotspot yang dipastikan itu fire spot ya. Karena di Sebangau deteksi hotspot itu terkadang belum tentu itu api. Karena memang kondisi kita yang kadang-kadang tertutup oleh air hutan rawa dan dipantulkan panas dari permukaan sehingga itu kadang dideteksi juga sebagai hotspot palsu," katanya, saat mengisi program Green Radio di Pro 1 RRI Palangka Raya, Sabtu, 18 Juli 2026.

Pada kesmpatan yang sama, Anggota Manggala Agni Balai Taman Nasional Sebangau, Endi Sanjaya, mengatakan surutnya permukaan sungai saat musim kemarau masih menjadi kendala dalam upaya pemadaman titik api. Kondisi tersebut membuat akses menuju lokasi kebakaran menjadi lebih sulit karena tim harus menggunakan perahu kecil untuk menjangkau area terdampak.

"Agak sulit karena ketika musim kemarau sungai-sungai kecil yang menuju ke sungai besarnya biasanya kering. Kebanyakan. Itu yang agak menyulitkan ya di lapangan," katanya.

Selain pemantauan langsung di lapangan, petugas juga memanfaatkan sistem peringatan dini dengan memonitor hotspot melalui aplikasi Sipongi milik Kementerian Kehutanan dan NASA FIRMS. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan setiap indikasi kebakaran dapat segera diverifikasi sebelum dilakukan penanganan.

Petugas berharap masyarakat turut berperan aktif mencegah terjadinya karhutla dengan tidak membuka lahan menggunakan api, terutama selama musim kemarau. Sinergi antara petugas dan masyarakat dinilai menjadi kunci untuk menekan risiko kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Sebangau maupun wilayah sekitarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....