Cuaca Ekstrem dan Karhutla Masih Mengancam Kalteng

  • 29 Mei 2026 17:50 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat Kalimantan Tengah agar tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan masih terjadi hingga akhir Mei 2026. Selain itu, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga perlu diantisipasi seiring mulai masuknya musim kemarau.

Koordinator Bidang Data dan Informasi Stasiun Meteorologi Tjilik Riwut Palangka Raya, Anton Budiyono, mengatakan masyarakat tidak hanya perlu mewaspadai ancaman karhutla, tetapi juga potensi cuaca ekstrem yang masih dapat terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah.

“Potensi cuaca ekstrem masih akan bertahan minimal sampai akhir bulan Mei ini karena monsoon kita belum stabil dan angin belum 100 persen kuat di monsoon Australia. Jadi selain waspada terhadap cuaca ekstrem yang sering terjadi, masyarakat juga harus waspada terhadap potensi karhutla saat musim kemarau datang,” ujar Anton saat mengisi Dialog Kentongan pada Selasa, 26 Mei 2026 di RRI Palangka Raya

Anton menambahkan, kondisi El Nino yang mulai terjadi membuat pihaknya khawatir musim kemarau tahun ini berlangsung lebih kering. Menurut dia, hujan saat ini masih cukup sering turun. Namun, ketika musim kemarau tiba, kondisi cuaca berpotensi berubah menjadi sangat kering sehingga meningkatkan risiko karhutla di Kalimantan Tengah.

Ia berharap kesiapsiagaan dalam menghadapi berbagai potensi bencana akibat perubahan cuaca dan kondisi lingkungan dapat menjadi tanggung jawab bersama, baik pemerintah maupun masyarakat.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kotawaringin Timur, Multazam, mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi berbagai situasi cuaca ekstrem yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

“Dalam berbagai situasi dan waktu kami selalu menyampaikan bagaimana menghadapi cuaca ekstrem, baik kondisi panas maupun hujan yang cukup deras. Kita berharap kondisi ini bisa dipahami masyarakat sehingga risiko-risiko yang diprediksi dapat diminimalkan,” kata Multazam.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....