Kesehatan Terganggu akibat Kabut Asap, Masyarakat di Imbau Waspada

  • 03 Agt 2026 06:05 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan kembali menjadi perhatian di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah. Selain mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi ini dinilai memberikan dampak yang signifikan terhadap kesehatan masyarakat. Tenaga kesehatan mengingatkan bahwa kualitas udara yang menurun dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit, terutama gangguan pada sistem pernapasan.

Menurut tenaga kesehatan, Erlina Cahayani, Ners., M. Kep Bagian Kemahasiswaan Universitas Eka Harap Palangka Raya mengatakan partikel halus yang terkandung dalam kabut asap dapat masuk hingga ke saluran pernapasan bagian dalam. Akibatnya, masyarakat berisiko mengalami batuk, pilek, iritasi mata, sesak napas, hingga memperparah penyakit asma dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Kelompok yang paling rentan adalah balita, ibu hamil, lansia, serta penderita penyakit jantung dan paru-paru. Minggu, 2 Agustus 2026.

"Kami mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kabut asap pekat. Jika harus beraktivitas, gunakan masker yang mampu menyaring partikel halus, perbanyak minum air putih, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami keluhan pernapasan," ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ika Paskaria, Ners., MN.Sc Bagian Humas Universitas Eka Harap Palangka Raya, selain berdampak pada kesehatan manusia, kabut asap juga menjadi ancaman bagi lingkungan. Kebakaran hutan dan lahan merusak habitat satwa liar, menurunkan kualitas tanah, serta mencemari udara dalam waktu yang cukup lama. Jika kondisi ini terus berulang, dampaknya tidak hanya dirasakan saat ini, tetapi juga dapat memengaruhi kualitas lingkungan bagi generasi mendatang.

Tenaga kesehatan menilai bahwa upaya pencegahan menjadi langkah yang paling efektif. Masyarakat diharapkan tidak membuka lahan dengan cara membakar, menjaga sumber air di sekitar lahan gambut, serta segera melaporkan apabila menemukan titik api. Sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, aparat, dan masyarakat menjadi kunci dalam mengurangi risiko kebakaran hutan dan dampak kabut asap.

Masyarakat juga diimbau untuk menjaga daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi, istirahat yang cukup, serta memantau informasi mengenai kualitas udara dari instansi terkait. Dengan meningkatnya kesadaran bersama, diharapkan dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat dan kelestarian lingkungan dapat diminimalkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....