Karhutla dan Kekeringan Masih Mengancam Kalteng
- 06 Okt 2026 21:09 WIB
- Palangkaraya
RRI.CO.ID, Palangka Raya - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan masih menjadi ancaman di Kalimantan Tengah. Kondisi ini diperparah dengan adanya kabut asap yang masih menyelimuti sejumlah wilayah, termasuk Kota Palangka Raya, sehingga mengganggu aktivitas masyarakat.
Kepala BMKG Kalimantan Tengah, Sugiyono, mengatakan, untuk mengatakan kondisi jarak pandang di wilayah Kota Palangka Raya pada Selasa, 6 Oktober 2026, pagi berada di kisaran 200 hingga 400 meter. Kondisi ini dinilai tidak aman untuk aktivitas penerbangan dan menunjukkan kualitas udara yang perlu diwaspadai masyarakat.
"BMKG melakukan pemantuan ribuan titik panas di Kalimantan Tengah yang tercatat sekitar 5.044 titik panas, dengan 642 titik di antaranya memiliki tingkat kepercayaan tinggi yang berpotensi menjadi titik kebakaran," ucapnya. Dijelaskan Sugiyono, wilayah Kalimantan Tengah bagian selatan menjadi salah satu kawasan yang memiliki potensi tinggi terhadap karhutla dan kekeringan.
Kabupaten Pulang Pisau, Kapuas, Kotawaringin Timur, Kotawaringin Barat, dan Sukamara termasuk daerah yang perlu mendapat perhatian karena memiliki kawasan gambut serta tingkat kemudahan terbakar yang tinggi.
Sugiyono menjelaskan, musim hujan di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah mulai terjadi secara bertahap dari bagian utara, barat, kemudian bergerak ke wilayah selatan. Namun, fenomena El Nino diperkirakan masih berlangsung sehingga curah hujan pada awal musim penghujan berpotensi tidak sebesar kondisi normal dan masyarakat diminta tetap waspada.
Sementara itu, pemerintah daerah bersama BNPB dan BMKG terus melakukan upaya antisipasi, termasuk melalui operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk membantu pembasahan wilayah yang rawan karhutla. BMKG juga secara rutin menyampaikan informasi perkembangan cuaca, iklim, hotspot, serta potensi kekeringan kepada pemerintah dan masyarakat sebagai bagian dari upaya pencegahan karhutla.
"Untuk mengatasi karhutla saat ini, pemerintah daerah di Kalimantan Tengah melakukan berbagai langkah antisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), salah satunya melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC),” katanya, saat Dialog Kalteng Menyapa di Pro 1 RRI Palangka Raya, Selasa, 6 Oktober 2026.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kotawaringin Timur, Imam Subekti, mengatakan pemerintah daerah telah melaksanakan OMC sejak akhir Juni sebagai upaya mencegah kekeringan dan melakukan pendinginan di wilayah rawan karhutla. Imam menjelaskan, setelah pemerintah daerah menetapkan status tanggap darurat, usulan OMC disampaikan kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), yang selanjutnya berkoordinasi dengan BMKG.
Menurutnya, upaya tersebut terus dilakukan meski kondisi kemarau dan fenomena El Nino yang kuat membuat sebagian langkah penanganan tidak selalu berjalan optimal.
"BMKG sudah mengingatkan sejumlah wilayah Kalteng, terutama bagian selatan, timur, dan barat, memiliki potensi tinggi mengalami kekeringan dan karhutla. Kabupaten Pulang Pisau, Kapuas, Kotawaringin Timur, Kotawaringin Barat, dan Sukamara menjadi daerah yang mendapat perhatian karena memiliki kawasan gambut serta tingkat kemudahan terbakar yang tinggi. BMKG juga secara rutin menyampaikan informasi cuaca dan kondisi iklim kepada pemerintah dan masyarakat sebagai langkah meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla,” katanya.
Kondisi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai menunjukkan penurunan. Sejumlah sekolah di titik yang dinilai aman telah kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka, meski sebagian masuk lebih siang.
Berdasarkan pemantauan terbaru BPBD Kotim, jumlah hotspot di Kotim berada di angka 636 titik, dengan 593 titik kategori sedang, 19 titik rendah, dan 24 titik tinggi. Hotspot kategori tinggi terpantau berada di Kecamatan Pulau Hanaut dan Seranau.
Untuk menangani titik api di Seranau, pemerintah daerah bersama TNI, Polri, dan BPBD mengerahkan sekitar 40 personel. Tim juga membawa sejumlah embung untuk mendukung suplai air secara estafet menuju lokasi yang sulit dijangkau.
Selain penanganan Karhutla, Pemerintah Kabupaten Kotim juga terus mengantisipasi dampak kekeringan dan krisis air, terutama di wilayah selatan. Distribusi air bersih dilakukan setiap hari ke sejumlah kecamatan, di antaranya Teluk Sampit, Pulau Hanaut, Mentaya Hilir Selatan, Mentaya Hilir Utara, serta sejumlah wilayah di sekitar Mentaya Baru Ketapang.
Sekitar 30 armada dari Dinas Cipta Karya, PUPR, PDAM, organisasi perangkat daerah lainnya, hingga perusahaan perkebunan sawit turut dilibatkan dalam pendistribusian air. Sementara itu, pemantauan titik Karhutla dilakukan melalui ground check sejak menjelang malam hingga pagi untuk kemudian menjadi dasar penyusunan rencana operasi harian di posko penanggulangan Karhutla Kabupaten Kotawaringin Timur.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....