Mengapa Hidup Terasa Berubah setelah Putus dari Hubungan Romantis

  • 21 Sep 2026 09:30 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya - Putus dari hubungan romantis bukan hanya perubahan status hubungan. Bagi sebagian orang, berakhirnya sebuah hubungan juga dapat mengubah rutinitas, hubungan sosial, cara memandang diri sendiri, dan kondisi emosional.

Penelitian longitudinal terhadap orang dewasa muda menunjukkan bahwa perpisahan romantis dapat diikuti peningkatan gejala depresi. Namun, dalam penelitian tersebut, gejala tersebut kembali mendekati tingkat sebelum perpisahan dalam beberapa bulan.

Temuan ini menunjukkan bahwa tekanan emosional setelah putus dapat bersifat sementara dan tidak selalu berlangsung dalam jangka panjang.

Penelitian lain yang mengikuti individu dari masa remaja hingga dewasa muda menemukan bahwa kemampuan memahami alasan berakhirnya hubungan berkaitan dengan proses penyesuaian psikologis. Individu yang memiliki pemahaman lebih baik mengenai alasan perpisahan menunjukkan beberapa indikator penyesuaian yang lebih baik dan kepuasan yang lebih tinggi dalam hubungan berikutnya. Hal ini menunjukkan bahwa memahami pengalaman hubungan sebelumnya dapat menjadi bagian dari proses seseorang dalam beradaptasi setelah putus.

Perpisahan juga dapat memengaruhi konsep diri. Sebuah penelitian mengenai pemulihan konsep diri setelah hubungan berakhir menemukan bahwa kesulitan dalam membangun kembali pemahaman mengenai diri sendiri berkaitan dengan kesejahteraan psikologis yang lebih rendah.

Hubungan romantis sering menjadi bagian penting dalam kehidupan seseorang. Ketika hubungan tersebut berakhir, seseorang mungkin perlu menata kembali rutinitas, kebiasaan, lingkungan sosial, dan identitas personal yang sebelumnya berkaitan dengan pasangan.

Namun, pengalaman setelah putus tidak selalu hanya berupa kesedihan. Penelitian mengenai perpisahan pada masa dewasa awal menemukan bahwa sebagian individu juga dapat mengalami perubahan positif setelah hubungan berakhir.

Perubahan tersebut dapat berkaitan dengan pemahaman terhadap diri sendiri, pengalaman dalam hubungan, serta cara menghadapi hubungan berikutnya. Meski demikian, penelitian tidak menunjukkan bahwa setiap orang akan langsung memperoleh manfaat positif setelah putus.

Kegiatan refleksi juga telah menjadi objek penelitian. Dalam salah satu penelitian yang dirangkum oleh American Psychological Association, peserta diminta menulis mengenai aspek positif dari berakhirnya hubungan selama beberapa hari.

Hasilnya menunjukkan adanya peningkatan emosi positif tanpa peningkatan emosi negatif. Temuan tersebut memberikan gambaran bahwa aktivitas reflektif tertentu dapat menjadi salah satu bagian dari proses penyesuaian setelah perpisahan.

Media sosial juga dapat menjadi bagian dari pengalaman setelah putus. Penelitian terhadap individu yang baru mengalami perpisahan menemukan bahwa mengamati aktivitas mantan pasangan secara berulang melalui media sosial berkaitan dengan tingkat tekanan emosional, perasaan negatif, dan kerinduan yang lebih tinggi.

Penelitian tersebut tidak berarti bahwa seluruh bentuk kontak dengan mantan pasangan pasti memberikan dampak buruk. Namun, pola penggunaan media sosial dapat berhubungan dengan bagaimana seseorang mengalami masa setelah hubungan berakhir.

Dengan demikian, life after breakup tidak memiliki pola yang sama untuk semua orang. Penelitian menunjukkan bahwa perpisahan dapat diikuti tekanan emosional, tetapi kondisi tersebut dapat berubah seiring waktu.

Pemahaman terhadap alasan perpisahan, pemulihan konsep diri, lingkungan sosial, dan cara seseorang berinteraksi dengan kenangan mengenai hubungan dapat menjadi bagian dari proses tersebut. Jadi, kehidupan setelah putus bukan sekadar tentang melupakan seseorang, tetapi juga tentang bagaimana seseorang menyesuaikan kembali kehidupannya setelah perubahan besar dalam hubungan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....