Diare Anak Perlu Diwaspadai saat Kemarau Berkepanjangan
- 18 Sep 2026 08:11 WIB
- Palangkaraya
RRI.CO.ID, Palangka Raya - Memasuki musim kemarau berkepanjangan, masyarakat perlu mewaspadai meningkatnya risiko diare pada anak akibat berkurangnya ketersediaan air bersih dan buruknya sanitasi. Dokter Umum RSJ Kalawa Atei Palangka Raya, Dr. Jepisco Lut, mengatakan kondisi tersebut dapat memengaruhi kebersihan makanan, tangan, dan lingkungan yang menjadi faktor penting dalam pencegahan diare.
Dr. Jepisco menjelaskan, diare pada anak umumnya ditandai dengan buang air besar berkonsistensi cair dan frekuensi lebih dari tiga kali. Menurutnya, orang tua juga perlu memperhatikan perubahan warna dan kondisi tinja karena dapat menjadi petunjuk adanya gangguan pada sistem pencernaan. Ia menambahkan, diare juga dapat disebabkan intoleransi laktosa, makanan yang tidak higienis, maupun infeksi seperti rotavirus yang dapat terjadi pada anak.
“Untuk mengatakan seseorang terkena diare, salah satu kriterianya adalah buang air besar dengan konsistensi yang memang cair dan intensitasnya lebih dari tiga kali, sehingga kalau BAB cair sudah lebih dari tiga kali, kondisi tersebut dapat kita kategorikan sebagai diare,” ujar Dr. Jepisco Lut.
Risiko diare semakin meningkat ketika pasokan air bersih berkurang karena masyarakat dapat mengalami kesulitan menjaga kebersihan makanan dan mencuci tangan. Selain itu, kondisi kemarau yang panas dan berdebu dapat meningkatkan potensi kontaminasi makanan melalui lalat serta mempercepat perkembangan bakteri dan mikroorganisme.
Dehidrasi menjadi salah satu kondisi yang harus diwaspadai ketika anak mengalami diare karena banyak cairan tubuh dapat keluar melalui buang air besar maupun muntah. Dr. Jepisco menyebutkan tanda dehidrasi yang dapat diperhatikan orang tua antara lain bibir kering, mata cekung, tangan pucat, serta turgor kulit yang menurun. Ia juga mengingatkan orang tua untuk tetap tenang, memastikan anak mendapatkan asupan cairan jika masih mampu minum, serta tidak memberikan obat secara sembarangan.
“Kalau anak sudah mengalami diare kemudian mulai lemas, tidak terlalu merespons, bibirnya kering, matanya cekung, tangannya pucat, dan turgor kulitnya sudah menurun, jangan menunggu terlalu lama karena kondisi tersebut dapat mengarah pada dehidrasi berat dan anak harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan untuk dievaluasi,” ucapnya.
Menghadapi kemarau berkepanjangan dan kondisi kabut asap di Kalimantan Tengah, masyarakat diimbau menjaga kebersihan air dan makanan serta rutin mencuci tangan menggunakan air dan sabun. Orang tua juga diminta segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila diare disertai dehidrasi, muntah terus-menerus, lemas, atau penurunan kesadaran.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....